Kompas.com - 20/01/2014, 07:59 WIB
Pekerja menunggu truk untuk mengangkut sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2012). Sampah tersebut menumpuk karena hujan mulai turun dan terbawa oleh aliran Sungai Ciliwung.
KOMPAS/AGUS SUSANTOPekerja menunggu truk untuk mengangkut sampah yang menumpuk di Pintu Air Manggarai, Jakarta Selatan, Senin (22/10/2012). Sampah tersebut menumpuk karena hujan mulai turun dan terbawa oleh aliran Sungai Ciliwung.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Selama ini sampah menumpuk di sungai-sungai di Jakarta dan diyakini menjadi salah satu penyebab banjir. Sebuah studi kini membuktikan bahwa sampah memang berkontribusi memperparah banjir.

Abdul Muhari, peneliti Indonesia pada Hazard and Risk Evaluation di International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS), Tohoku University, mengobservasi dan melakukan simulasi untuk mengetahui penyebab banjir yang terjadi di Jakarta, 17 Januari 2013 lalu.

Pada tahun 2013, debit air di Kanal Banjir Barat, khususnya Manggarai dan Karet, sangat tinggi dibanding hujan pada tahun-tahun sebelumnya.

Abdul mengatakan, hal tersebut perlu dipertanyakan. Sebabnya, curah hujan di Katulampa pada hari sebelum banjir Januari 2013 hanya 107 mm, jauh lebih rendah dibanding curah hujan saat banjir 2007 yang mencapai 409 mm.

Hasil simulasi Abdul dan timnya mengungkap bahwa tingginya debit air yang mencapai 180 meter kubik per detik dan ketinggian air di Manggarai dan Karet disebabkan oleh sampah. Sampah menutup tiga dari empat pintu air di Karet.

"Efek terhalangnya tiga dari empat pintu air di Karet berpotensi menyebabkan peningkatan tinggi muka air di segmen Manggarai-Karet sampai 10 meter dari ketinggian yang seharusnya hanya enam meter jika empat pintu air tersebut bekerja sempurna," jelas Muhari.

Debit air yang tinggi itu memicu luapan air yang akhirnya bermuara pada penggerusan serta jebolnya tanggul Latuharhary.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketinggian tanggul Latuharhary termasuk lapisan tanah hanya delapan meter. Lapisan beton pada tanggul itu hanya sampai ketinggian tujuh meter dari dasar kanal. Kenaikan ketinggian air yang tak wajar memicu luapan pada titik-titik dengan ketinggian tanggul lebih rendah dibanding segmen lain.

Analisis Muhari menyebutkan bahwa muka tanggul mengalami penurunan beberapa sentimeter hingga segmen tersebut lebih rendah hampir satu meter dibandingkan dengan elevasi muka di depan Pintu Air Karet yang terletak jauh lebih ke hilir.

"Luapan air sangat mungkin bermula dari bagian ini dan menggelontorkan air dengan debit setidaknya 40 meter kubik per detik," ungkap Muhari.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X