Kompas.com - 05/01/2014, 19:34 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Beragam film, artikel di situs web, dan buku cerita mengisahkan adanya benda langit yang menabrak planet, termasuk Bumi.

Kevin Adrian, seorang warga Jakarta, menanyakannya kepada situs astronomi Langitselatan, tentang kemungkinan komet, salah satu benda langit, benar-benar menabrak planet.

"Apakah komet dapat menabrak salah satu planet di Tata Surya? Bila bisa, apa yang akan terjadi?" tanyanya.

Nah, benarkah komet bisa menabrak planet? Mungkinkan itu menjadi kenyataan? Berikut uraian dari Langitselatan.


Komet adalah tamu jauh bagi Bumi dan planet-planet dalam di Tata Surya karena ia datang dari dua kawasan luar Tata Surya kita.

Wilayah paling luar Tata Surya yang berada pada jarak 50000 AU, bernama Awan Oort, mengirimkan komet-komet dengan periode (waktu komet tersebut dalam melakukan satu kali revolusi terhadap Matahari) panjang. Wilayah luar Tata Surya lainnya yang terletak lebih dekat, yakni sekitar 30 – 100 AU, dinamakan Sabuk Kuiper, mengirimkan komet-komet dengan periode pendek.

Perlu diingat bahwa temperatur benda di Tata Surya kita akan turun dengan bertambahnya jarak dari Matahari.

Oleh sebab jaraknya yang demikian jauh, dua per tiga dari komposisi komet merupakan es dan salju, sedangkan sepertiga lainnya berupa debu batuan. Setiap komet punya inti berupa batuan es yang padat sehingga seing disebut ‘bola salju’ yang datang dari tepi luar Tata Surya.

Dalam perjalanannya, komet akan bergerak mendekati Matahari. Saat mendekati Matahari, maka lapisan es di komet akan mengalami pemanasan dan mulai menguap. Permukaan salju akan berubah menjadi gas dan bersama debu yang ada di komet mereka membentuk lapisan koma, awan yang menyelubungi inti komet. Selain terbentuknya koma, gas dan debu juga membentuk ekor komet yang panjangnya bisa mencapai 100 juta km!

Semakin dekat dengan Matahari, semakin banyak pula es yang hilang. Jadi, jika sebuah komet sudah melakukan kunjungannya mendekati matahari hingga sekian kali, maka komet bisa saja kehilangan materi untuk membentuk ekor, menyisakan permukaan yang ditutupi debu gelap dan akan tampak seperti asteroid. Tak ada lagi lapisan es di luarnya yang tersisa.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.