Kompas.com - 03/01/2014, 17:31 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo

Namun, seiring berkembangnya pencemaran air di tempat-tempat yang menjadi habitat capung, capung kian terpinggirkan dan terjauhkan dari manusia. Capung tak lagi mudah ditemui di persawahan, kolam, dan sekitar sungai di perkotaan.

Wahyu mengatakan, air rumah capung banyak tercemar. Sawah-sawah banyak menggunakan pestisida sehingga menyebabkan capung dan nimfa capung tak bisa hidup.

Saluran-saluran irigasi di sawah tak lagi terbuat dari tanah, tetapi beton sehingga capung tidak bisa meletakkan telur-telurnya. Selain itu, di sawah-sawah sekarang tidak lagi terdapat bilah-bilah bambu yang merupakan tempat bertengger capung.

Capung merupakan predator serangga, seperti nyamuk, wereng, lalat, kepik daun, kutu daun, dan jentik-jentik nyamuk. Semakin banyak capung di sawah akan membuat serangga atau hama padi semakin sedikit.

”Sayang, kultur pertanian tumpang sari yang dahulu pernah ada berangsur-angsur pudar. Dahulu, di sawah petani juga menanam kacang panjang dengan bilah-bilah bambu. Namun, sekarang sebagian besar hanya hamparan sawah,” kata Sigit.

Bioindikator

Di tengah dunia yang sedang digerogoti pencemaran air, capung bisa menjadi bioindikator. Artinya, capung menjadi indikator air bersih dan lingkungan sehat karena kehidupan capung tak dapat dipisahkan dengan air.

Sebelum menjadi capung dewasa, capung hidup sebagai serangga air selama beberapa bulan, bahkan tahun. Sebagian besar dari bakal capung itu tak mampu hidup tanpa air bersih, sedangkan sebagian kecil mampu toleran air yang tidak bersih.

Menurut Sigit, hal serupa bisa terjadi pula di Pegunungan Kendeng Utara. Jika mata air tempat tinggal capung tercemar, capung meninggalkannya. ”Dari 30 jenis capung yang ditemukan dalam penelitian di Kendeng, 8 jenis di antaranya capung yang nimfanya sensitif pencemaran. Bila air itu tercemar, nimfa capung mati,” katanya.

Di Kendeng, mudah-mudahan capung tetap bertahan seiring keberlanjutan lingkungan. (HENDRIYO WIDI/KOMPAS CETAK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Oh Begitu
Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.