Capung Kendeng Penanda Air Kehidupan

Kompas.com - 03/01/2014, 17:31 WIB
Wikipedia Capung yang terdapat di Jawa, Pantala flavescens.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Capung teman anak-anak. Setiap kali melihat capung, mereka berlarian ingin menangkapnya. Ada yang menggunakan tangan, ada pula yang memakai tas plastik, dan ada juga yang menjeratnya dengan getah nangka yang lengket.

Capung mengajari anak-anak mengenal alam. Capung memancing anak-anak bermain di luar rumah, menyusuri pematang sawah, berkubang di air, dan bersentuhan dengan rimbunnya dedaunan.

Namun, kini capung tak mudah dilihat dan didapat. Capung telah pergi dari depan halaman rumah, sawah, dan aliran-aliran sungai kecil. Dan, tak banyak lagi anak-anak yang mengikat ekor capung dengan seutas tali untuk diadu ketinggian terbangnya dengan capung lain.

Sungguh jauh berbeda dengan di Pegunungan Kendeng Utara, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Pegunungan dengan bebatuan kapur dan karst itu masih lestari menjadi tempat tinggal capung. Masyarakat lereng pegunungan menyebut Kendeng sebagai omah kinjeng atau rumah capung.

”Di sawah-sawah memang sulit sekali melihat capung. Kalaupun ada, cuma satu sampai dua ekor, tak sebanyak dulu. Yang masih banyak justru di mata air-mata air dan sejumlah aliran sungai di lereng Pegunungan Kendeng Utara,” kata Sugiyono (60), warga Desa Karangrowo, Jekenan, Pati.

Setidaknya, ada 30 spesies capung ditemukan di dua desa di kaki Pegunungan Kendeng Utara itu. Dari 30 jenis capung itu, tiga di antaranya endemik Jawa, yaitu Ghompidia javanica, Rhinocypha fenestrata, dan Nososticta insignis. Rhinocypha fenestrata merupakan salah satu capung endemik Jawa langka.

Itu berdasar penelitian capung Indonesia Dragonfly Society (IDS) dan Yayasan Masyarakat untuk Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, dan Perdamaian Indonesia (YSI) Area Jawa Tengah, 8-11 Desember 2013.

Pendataan dilakukan di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, dan Desa Brati, Kecamatan Kayen, Pati. Kedua desa itu kawasan yang diincar investor semen dan masuk peta potensi bahan baku semen. Penelitian itu bertujuan mendata capung Jawa, melihat tingkat kebersihan air, dan keragaman vegetasi.

Lewat temuan keragaman spesies capung itu, kondisi perairan di dua desa di kaki Pegunungan Kendeng Utara itu masih baik. ”Apabila di daerah itu tidak lagi ditemukan capung, masyarakat sekitar harus berhati-hati. Itu tandanya air sudah tercemar dan ekosistem capung terganggu,” kata Ketua IDS Wahyu Sigit Rahadi.

Pada buku Naga Terbang Wendit (2013) yang disusun IDS, capung atau Ordo odonata merupakan serangga terbang pertama di dunia. Capung muncul sejak zaman Karbon (360-290 juta tahun lalu) dan bertahan hingga sekarang. Capung tersebar di wilayah berair, seperti pegunungan, sungai, rawa, danau, sawah, dan pantai.

Namun, seiring berkembangnya pencemaran air di tempat-tempat yang menjadi habitat capung, capung kian terpinggirkan dan terjauhkan dari manusia. Capung tak lagi mudah ditemui di persawahan, kolam, dan sekitar sungai di perkotaan.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X