Kompas.com - 13/12/2013, 17:09 WIB


Dalam praktik sehari-hari, sering kali pasien yang datang berkonsultasi pada akhir wawancara mengatakan “Jadi, saya sakit jiwa bukan dok?”. Pertanyaan yang sebenarnya mempunyai makna retorik karena memang tentunya ketika memutuskan datang ke psikiater, pasien sedikit banyak telah memahami ada masalah dalam kejiwaannya.

Namun, mungkin lebih banyak pertanyaan ini diutarakan karena pasien kebanyakan memahami yang dimaksud sakit jiwa itu adalah gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. Lebih gamblang lagi pasien banyak yang menanyakan langsung “Apakah saya gila?”

Stigma yang melekat pada gangguan jiwa memang tidak enteng. Pasien rata-rata dalam banyak diskusi dan sesi konsultasi mengatakan bahwa ke psikiater merupakan suatu hal yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Pasien kebanyakan menolak ide untuk ke psikiater karena merasa tidak cocok berkonsultasi masalah yang dihadapinya ke seorang dokter yang kebanyakan dikenal orang mengobati orang dengan masalah gangguan jiwa berat. Apalagi jika pasien mengalami masalah gangguan fisik sebagai manifestasi masalah psikis (psikosomatik), pasien bisa bertanya-tanya dalam hati, apa keperluannya dirinya berkonsultasi masalah fisik ke dokter jiwa.

Menerima diri apa adanya

Penerimaan akan kondisi diri sendiri merupakan suatu langkah yang sangat penting dalam proses terapi dengan psikiater. Pasien sering kali merasa ragu dan malu bahkan mungkin takut menerima bahwa dirinya saat ini membutuhkan bantuan seorang dokter jiwa. Banyak kesempatan pasien mengatakan bahwa mereka tidak habis pikir mengapa mereka yang dulunya sehat walafiat, bekerja dengan semangat dan penuh percaya diri, sekarang menjadi manusia yang penuh ketakutan, kecemasan dan rendah diri. Mereka tidak bisa menerima kehilangan dirinya yang dulu sehingga sering kita temukan pasien gangguan kecemasan juga mengalami gejala-gejala depresi.

Baiknya, dalam proses terapi pasien mampu dan mempunyai kesadaran untuk menerima dirinya saat ini membutuhkan bantuan. Pasien juga perlu menerima bahwa apa yang terjadi pada dirinya adalah suatu hal yang memang bisa terjadi pada semua orang. Sering pasien merasa dirinyalah yang paling menderita dengan keluhannya sekarang. Pasien sering lupa bahwa gangguan jiwa itu banyak diderita oleh banyak orang di dunia ini, tua muda, laki-laki dan perempuan dari berbagai golongan dan status sosial yang beragam.

Kesulitan menerima diri dengan kondisi gangguan jiwa yang dialami sebenarnya akan menyulitkan pasien untuk sembuh. Contohnya, seorang yang mengalami gangguan dan gejala-gejala fisik tapi tidak ditemukan dasar bermakna secara organik akan kondisinya itu. Ketika dia belum bisa menerima dirinya itu maka pasien akan terus berupaya melakukan pencarian pengobatan medis fisik yang bertujuan untuk mencari tahu dasarnya.

Saat disarankan untuk ke psikiater, pasien akan menolak dengan tegas dan malah bisa tersinggung. Tidak heran dalam praktek sehari-hari, tidak banyak juga dokter yang mau menyarankan pasiennya untuk ke psikiater. Pemahaman tentang peran psikiater yang masih sempit ini yang membuat pasien menjadi tersinggung jika disarankan ke psikiater.

Padahal proses penerimaan yang baik tentang kondisi dirinya tersebut akan mampu membantu dalam proses terapi. Pasien akan bisa menerima dirinya dan kondisinya, mau berupaya dengan semangat untuk mengatasi masalahnya itu dan bisa memotivasi dirinya lebih baik. Jadi sebenarnya inti dalam pengobatan psikiatri sebenarnya adalah diawali dengan kemapuan untuk menerima diri apa adanya. Kalau memang sakit jiwa, mengapa harus malu mengakuinya?

Salam Sehat Jiwa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Sumber Kompasiana
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Waspada Dehidrasi pada Bayi, Ini Gejala dan Penyebabnya

Kita
Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Mengenal Stroke Non Hemoragik, Jenis Stroke yang Paling Sering Terjadi

Kita
Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Gurita Selimut Betina Ternyata Berukuran Lebih Besar dari Gurita Jantan

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Resistensi Antimikroba Ancam Kesehatan Dunia, Apa yang Bisa Dilakukan?

Oh Begitu
Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Proses Seleksi Jadi Ratu Lebah Sungguh Brutal, Seperti Apa?

Oh Begitu
Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.