Manusia Semakin Menjadi Karnivora

Kompas.com - 03/12/2013, 20:09 WIB
Studi menunjukkan, manusia sekarang semakin karnivora. worldconsciouspact.org/Studi menunjukkan, manusia sekarang semakin karnivora.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Pertumbuan ekonomi pesat di China dan India mendorong peningkatan konsumsi daging di sana melonjak besar-besaran. Sebuah studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences pada 2 Desember mengungkap secara komprehensif tren global ini.

Ini merupakan pertama kalinya peneliti menghitung tingkat tropik dengan metrik dari sisi manusia. Sistem metrik digunakan dalam ilmu ekologi untuk menempatkan spesies-spesies dalam rantai makanan.

Metrik menempatkan tumbuhan dan ganggang (yang mampu memproduksi makanannya sendiri) di level 1. Seterusnya kelinci dan segala binatang pemakan tumbuhan di level 2. Rubah yang memakan kelinci di level 3. Ikan kod di level 4. Sampai beruang kutub di level puncak karena tak punya atau sedikit pemangsa.

Tingkat tropik organisme dihitung dengan menjumlahkan tingkat tropik makanan dalam diet dan proporsi yang dikonsumsinya. Diperkirakan di tahun 2009, manusia berada pada level 2.21. Posisi ini membuat kita di level yang setaraf dengan omnivora lain seperti babi dan ikan-ikan kecil, dalam jaring-jaring makanan.

Pemimpin tim dalam studi ini ialah Sylvain Bonhommeau, seorang peneliti perikanan pada French Research Institute for Exploitation of the Sea di Sète. Ia mengatakan, peneliti juga menemukan perubahan pola makan dari waktu ke waktu.

Bagaimana? Mereka melakukan kalkulasi tingkat tropik manusia (dari data kompilasi 176 negara berdasarkan FAO) sejak periode 1961 - 2009 dengan 102 jenis makanan—berupa lemak hewan hingga ketela ubi.

Ternyata, selama lebih dari 50 tahun, ada peningkatan pada konsumsi lemak dan daging seiring juga kenaikan tingkat tropik rata-rata manusia sekitar tiga persen. Tampaknya kecil saja, tetapi setelah dianalisis, itu angka yang cukup besar bagi sebuah perubahan. Hal ini mengkhawatirkan bagi keberlanjutan lingkungan.

Meski kecenderungan ini tidak dapat dimungkiri, tetapi tidak bisa dikatakan merata di seluruh belahan dunia. Populasi di India dan China, di mana ratusan juta penduduk telah terangkat derajatnya dari kemiskinan, memang menunjukkan kenaikan tingkat tropik.

Namun, disebutkan di beberapa tempat seperti Eslandia, Mongolia, dan Mauritania, penduduk makan daging, ikan, serta susu. Ditemukan, tingkat tropik mereka justru menurun karena mulainya dilakukan diversifikasi produk-produk berbasis susu. (National Geographic Indonesia)



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Antartika Tak Tersentuh Covid-19, Penelitian Musim Panas Ilmuwan Kurangi Personel

Oh Begitu
Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Bukan Palung Mariana, Lubang Terdalam Bumi Dibuat oleh Manusia

Fenomena
Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Sejak 70.000 Tahun Manusia Sudah Gunakan Panah Beracun, Ini Penjelasannya

Fenomena
Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Planet Luar Tata Surya Bumi Super Paling Ekstrem Ternyata Punya Lautan Lava

Fenomena
Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Hutan Hujan Amazon Kena Proyek Pengaspalan, Kerusakan Lingkungan di Depan Mata

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Gempa Hari Ini: M 5,0 Guncang Sumba Ternyata Sudah 244 Kali Susulan

Fenomena
Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Istri Adalah Orang Lain yang Kebetulan Diurus Suami, Benarkah?

Oh Begitu
Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Ilmuwan di Inggris Kembangkan Vaksin Tiruan untuk Lawan Covid-19

Fenomena
Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Misteri Mahluk Berleher Super Panjang Akhirnya Terungkap, Ini Penjelasannya

Fenomena
Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Ledakan Lebanon, Bagaimana Amonium Nitrat Menghancurkan Kota?

Oh Begitu
Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Sejak 5 Agustus, Rentetan Gempa Sumba Mencapai 112 Kali

Fenomena
Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Rentetan 3 Gempa Guncang Sumba NTT, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Banyak Hewan Terancam Punah, Kenapa Ilmuwan Pilih Selamatkan Parasit?

Fenomena
Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Mengapa Zebra Punya Garis-garis Hitam Putih di Tubuh? Ini Penjelasan Sains

Oh Begitu
Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Deteksi Kilat Corona, Swab Antigen Lebih Akurat Dibanding Rapid Test

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X