Kompas.com - 27/11/2013, 08:35 WIB
Penangkapan ikan di Teluk Persia dalam citra Google Earth. Google EarthPenangkapan ikan di Teluk Persia dalam citra Google Earth.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
 — Data total penangkapan ikan yang sesungguhnya sering sulit didapatkan. Kini, dengan bantuan teknologi, lewat Google Earth misalnya, data tersebut mampu diperoleh.

Dalam studi yang dipublikasikan di ICES Journal of Marine Science, Google Earth membantu menyajikan "kegilaan" penangkapan ikan di Teluk Persia selama tahun 2005.

Google Earth mengungkap, ada 1.900 rawai yang dipasang di Teluk Persia. Sementara itu, selama 1 tahun saja, sudah ada 31.000 ton ikan yang tertangkap.

Jumlah tersebut melebihi kuantitas yang dilaporkan oleh Food and Agricultural Organization (FAO) yang hanya sebanyak 5.260 ton.

Rawai adalah alat penangkap ikan semi-permanen yang memanfaatkan perbedaan pasang. Alat ini dipakai di Asia Tenggara, Afrika, dan sebagian Amerika. Panjang rawai bisa mencapai 100 meter.

"Teknik penangkapan ikan ini sudah dipakai sejak ribuan tahun," kata Dalal Al-Abdulrazzak, mahasiswa doktoral bidang perikanan di University of British Columbia.

"Namun, kita belum mampu mengetahui dampaknya pada sumber daya laut kita hingga sekarang," imbuhnya seperti dikutip Physorg, Selasa (26/11/2013).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil penelitian ini mengungkap potensi teknologi informasi dalam mengungkap pola penangkapan ikan di berbagai wilayah.

"Karena negara-negara tidak memberikan informasi penangkapan ikan yang bisa dipercaya, kita perlu mengembangkan pemikiran kita, serta melihat sumber informasi lain dan teknologi baru, memberi petunjuk tentang apa yang terjadi di lautan kita," ungkap Daniel Pauly, pimpinan investigasi dalam Sea Around Us Project di University of British Columbia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Ahli: Belum Ada Bukti Kuat Penularan Covid-19 dari Jenazah

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X