Inovasi Remaja yang Membuat Decak Kagum

Kompas.com - 18/11/2013, 10:10 WIB
Kenny Reida Dharmawan dan Akbar Bagas Pramantya memamerkan sistem peringatan dini akan risiko kecelakaan yang dibuatnya, bernama AWAS. Yunanto Wiji UtomoKenny Reida Dharmawan dan Akbar Bagas Pramantya memamerkan sistem peringatan dini akan risiko kecelakaan yang dibuatnya, bernama AWAS.
EditorYunanto Wiji Utomo

Oleh Ester Lince Napitupulu

KOMPAS.com - Menyaksikan kreativitas dan inovasi hasil riset para remaja, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Takjub, karena inovasi yang mereka hasilkan sederhana, tetapi menjadi solusi berbagai persoalan yang ada di masyarakat. Mereka pun masih berusia sangat belia, baru belasan tahun.

Naufal Rasendriya Apta R (15) dan Archel Valiano (15), misalnya, baru duduk di kelas IX SMP Islam Al Azhar 26, Yogyakarta. Namun, keduanya bisa menghasilkan karya yang membuat decak kagum pengunjung maupun dewan juri Kompetisi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 2013.

Naufal dan Archel menawarkan helm untuk pengendara sepeda motor ataupun sepeda yang dilengkapi lampu sein atau rating di telinga kiri dan kanannya.

Mereka memodifikasi alat sensor yang dapat menghidupkan lampu sein di helm. Uniknya, pengendara cukup menggelengkan kepala ke kiri atau ke kanan saat hendak berbelok sesuai arah, maka lampu sein menyala. Jika sudah tidak dipakai, pengendara tinggal menganggukkan kepala ke depan dua kali, maka lampu sein akan mati.

”Kami buat helm ini supaya bisa mengurangi angka kecelakaan di jalan raya,” kata Naufal yang atas karyanya ini, dia diganjar menjadi juara kedua kategori National Young Inventor Award (NYIA) Ke-6.

Di ajang NYIA beragam karya ditawarkan siswa SD, SMP, dan SMA sederajat berusia 8-18 tahun. Untuk mengatasi kejahatan, misalnya, siswa SMAN 6 Yogyakarta menawarkan gelang anti-penculikan dengan sensor alarm otomatis dan sandal antimaling. Ada juga sistem pengamanan terhadap benda pasif maupun aktif tanpa menggunakan kunci yang ditawarkan siswa SMA Dharma Karya, Tangerang Selatan.

Siswa SMAN 6 Yogyakarta juga membuat 3 in 1 shoes, yakni sepatu yang bisa dimodifikasi untuk tiga penampilan, iBlind yakni komunikasi melalui layanan pesan singkat (short message service/SMS) berformat huruf braille untuk penyandang tunanetra yang juga tunarungu. Ada pula kursi roda hidrolik yang memudahkan penyandang cacat untuk pindah sendiri ke tempat tidur tanpa bantuan orang lain.

Putri Khusna Millaty, siswa MAN 2 Kudus, Jawa Tengah, menciptakan alat pembelah durian. Cara kerja alat ini mengikuti prinsip payung terbalik.

”Anak nakal”

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X