Laut Makin Asam karena Emisi CO2, Ketahanan Pangan Pun Terancam - Kompas.com

Laut Makin Asam karena Emisi CO2, Ketahanan Pangan Pun Terancam

Kompas.com - 15/11/2013, 09:59 WIB
KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES Perahu nelayan tambat di Pantai Pangandaran Timur, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Minggu (5/5/2013). Kawasan yang pernah hancur karena tsunami 2006, kini sudah pulih dan menjadi salah satu tujuan wisata di Jawa Barat.
KOMPAS.com — Lautan di Bumi sudah bertambah asam 26 persen sejak awal revolusi industri pada awal abad ke-20. Perubahan ekstrem iklim dan kerusakan ekosistem laut pun mengancam sampai ke persoalan ketahanan pangan.

"Orang-orang yang bergantung pada layanan ekosistem laut sangat rentan dan mungkin perlu menyesuaikan atau mengatasi dampak pengasaman laut dalam beberapa dekade mendatang," ujar penelitian yang dipublikasikan pada Kamis (14/11/2013).

Hilangnya terumbu karang di kawasan tropis disebut bakal berdampak besar pada pariwisata, keamanan pangan, dan perlindungan garis pantai. Kalangan termiskin di dunia yang tinggal di tepi pantai disebut pula sebagai kalangan yang akan terdampak besar oleh naiknya keasaman air laut.

"Pengurangan emisi CO2 yang sangat agresif diperlukan untuk mempertahankan mayoritas terumbu karang tropis di perairan yang menguntungkan bagi pertumbuhan (ekonomi)," kata laporan itu.

Salah satu penulis laporan tersebut, Daniela Schmidt dari University of Bristol di Inggris, menyoroti dampak peningkatan keasaman air laut pada keanekaragaman hayati dan perikanan, terutama dampak bagi masyarakat yang menggantungkan makanan dan perekonomiannya dari hasil laut.

"Kita bicara tentang negara-negara yang sangat bergantung pada (hasil laut) ini, di negara-negara hangat di mana ada masalah kompleks dengan perubahan iklim seperti itu," kata Schmidt. "Saya berharap orang menyadari bahwa CO2 bukan hanya masalah pemanasan global," tegas dia.

Berharap pengetatan aturan emisi CO2

Schmidt mengingatkan bahwa laut merupakan media pertukaran langsung kandungan gas dengan atmosfer. "Semakin tinggi emisi CO2, semakin asam air laut," ujar dia. Sementara dampak dari bertambah asamnya air laut akan terasa hingga jutaan tahun mendatang.

Tanda-tanda kerusakan ekosistem laut akibat emisi CO2 dari konsumsi bahan bakar berbasis fosil alias minyak bumi, menurut Schmidt, sudah mulai terlihat saat ini. Contoh yang dia sebutkan terjadi di peternakan tiram di Pantai Barat Amerika Serikat.

Laporan tentang peningkatan tingkat keasaman air laut ini rencananya bakal dipaparkan di Konferensi PBB tentang perubahan iklim di Warsawa, Polandia, pada 18 November 2013. Schmidt berharap laporan ini akan ditindaklanjuti dengan pengetatan batas emisi CO2. "Ini bukan masalah yang begitu saja akan berlalu. Konsekuensinya menakutkan," ujar dia.

Para peneliti mendapatkan emisi karbon dioksida dari aktivitas manusia merupakan penyebab lonjakan keasaman laut itu. Aktivitas manusia tersebut mencakup penggunaan bahan bakar berbasis fosil, alias bahan bakar minyak.

Laju pertambahan keasaman laut, menurut para peneliti ini, jauh lebih cepat dibandingkan pada 300 juta tahun lampau. Mereka pun memperkirakan pada 2100, keasaman air laut akan meningkat 170 persen dibandingkan dengan masa sebelum revolusi industri.

Laporan ini merupakan hasil dari simposium tentang samudra yang digelar pada September 2012. Simposium itu diikuti 540 pakar dari 37 negara, membahas beragam penelitian soal keasaman air laut. Penelitian yang lebih baru juga sudah dikembangkan sesudah simposium itu.

Simposium yang menyebabkan laporan disponsori oleh Komite Ilmiah tentang Penelitian Kelautan, Komisi Oseanografi Antarpemerintah UNESCO, dan Program Geosfer-Biosfer Internasional.

Baca juga:
Penelitian: Air Laut Semakin Asam


EditorPalupi Annisa Auliani
SumberCNN.com

Close Ads X