Kompas.com - 24/10/2013, 19:09 WIB
Visual seniman mengenai tas punggung elektronik yang direkatkan di punggung lalat untuk membantu para peneliti di Howard Hughes Medical Institute mempelajari cara capung ini terbang. National GeographicVisual seniman mengenai tas punggung elektronik yang direkatkan di punggung lalat untuk membantu para peneliti di Howard Hughes Medical Institute mempelajari cara capung ini terbang.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Dalam sebuah ruangan tak berjendela di utara Virginia, ahli saraf Anthony Leonardo akan membuka pintu. "Cepat!" katanya. "Di sini ada ribuan lalat buah dan kami tidak mau mereka semua kabur." Lalat buah bukanlah subyek dari penelitian Leonardo, melainkan makanan bagi subyek utamanya: capung.

Leonardo mempelajari bagaimana capung menangkap mangsa menggunakan perangkat yang sangat mini. Yakni berupa tas yang diletakkan di punggung capung dan berfungsi mencatat rekaman dari sistem saraf si capung kala mengejar makanan.

Leonardo dan koleganya bekerja di pusat riset Howard Hughes Medical Institute (HHMI) di Janelia Farm, Ashburn, Virginia. Lalat buah dan capung terbang di arena dalam ruangan dengan cahaya terang dan suhu lembab. Dengan demikian, capung akan merasa tinggal di ekosistem sebenarnya. Bahkan dindingnya pun dihiasi dengan foto mural yang menunjukkan lanskap di luar ruangan.

Ketika kamera dalam ruangan dinyalakan, Leonardo dan koleganya bisa melihat pergerakan dari capung. Melacak mereka saat melakukan manuver presisi dengan empat sayapnya. Bukanlah hal mudah bagi sebuah subyek menangkap subyek lain yang bergerak. Namun, ini bisa dilakukan capung dengan cukup mudah.

Meski demikian, dalam level saraf, ini membutuhkan kerja yang tidak demikian, sangatlah rumit.  Capung mampu mendeteksi keberadaan lalat dan di saat bersamaan sangat fokus hingga akhirnya mendapatkan si lalat sebagai makanan. "Kita hanya mengerti sedikit mengenai bagaimana otak mengintegrasikan informasi sensorik dan motorik," ujar Leonardo.

Secara sederhana dijelaskan mengenai cara kerja tas punggung mini ini. Leonardo merekatkan kabel perak dan serat karbon untuk membuat antena. Kemudian memotong cip kecil warna hijau dan merekatkannya bersamaan. Barulah kemudian ditempelkan di bahu si capung.

Para peneliti yang terlibat berhasil mengurangi bobot tas ini dengan membuang baterainya. Dengan demikian, berat dari tas ini hanya sekitar 40 miligram, sama seperti saat capung ini membawa dua keping beras sehingga mereka tidak akan terlalu terganggu memakainya.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tas ini juga memiliki kabel kecil yang terhubung dengan sistem neuronnya. "Saat binatang ini menampilkan perilaku menghalang yang cukup rumit, tas ini bertindak layaknya radio yang mengirim sinyal dari neuron ke komputer kami," jelas Leonardo.

Dalam pemikiran awal manusia, tampaknya capung ini menangkap mangsanya dengan tetap terbang di lajur visualnya lalu terbang mendekat. Kini, Leonardo berasumsi bahwa cara tubuh capung bekerja menentukan pergerakannya. "Ini kerja yang luar biasa," kata Adrienne Fairhall sebagai ahli saraf komputerisasi dari University of Washington. (Helen Fields/National Geographic Indonesia)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X