Tiga Alasan Mengapa Topeng Monyet Memang Harus Dilarang

Kompas.com - 23/10/2013, 18:07 WIB
Atraksi topeng monyet. BARRY KUSUMAAtraksi topeng monyet.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com - Mulai 2014, Pemerintah DKI Jakarta menargetkan Jakarta bebas topeng monyet. Razia topeng monyet telah dilakukan sejak beberapa hari lalu. Monyet nantinya akan divaksin dan diperiksa kesehatannya dan dikirim ke Taman Margasatwa Ragunan.

Pelarangan topeng monyet memang akan membuat beberapa pihak kehilangan mata pencaharian. Namun, topeng monyet memang harus dilarang. Pramudya Harzani, Dewan Pembina Jakarta Animal Aid Network (JAAN) mengungkapkan ada tiga alasan.

Pram mengatakan alasan pertama adalah terkait hukum. Pram mengatakan, "Pelarangan topeng monyet ini dasar hukumnya jelas."

Salah satu dasar hukumnya adalah Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) No 302 yang mengatur tentang tindakan penyiksaan hewan. Selain itu, ada pula Undang-Undang Nomor 18 Tahun 200 9 tentang Peternakan dan Kesehatan Pasal 66 Ayat 2g.

Dasar hukum lain adalah Peraturan Kementan Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan Pasal 83 Ayat 2, Perda No. 11 Tahun 1995 tentang Pengawasan Hewan Rentan Rabies serta Pencegahan dan Penanggulangan Rabies Pasal 6 Ayat 1 dan Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum Pasal 17 Ayat 2.

Alasan kedua, kata Pram, adalah soal etika, baik terkait pekerja topeng monyet ataupun monyetnya sendiri.

"Banyak pekerja topeng monyet itu yang masih anak-anak. Mereka ini sebenarnya masih usia produktif," kata Pram.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kemudian juga ini terkait etika terhadap hewan karena ini bentuk eksploitasi," imbuh Pram saat dihubungi Kompas.com, Rabu (23/10/2013).

Sementara, alasan ketiga adalah soal kesejahteraan satwa. Kesejahteraan satwa meliputi hak untuk hidup bebas, hak bebas dari penyakit, dan sebagainya. Pram mengatakan, monyet yang dijadikan obyek atraksi topeng monyet kehilangan kesejahteraannya.  

Salah satu buktinya, monyet ditempatkan di dalam kandang yang ukurannya sangat kecil, 30 x 40 x 40 cm. Dengan kandang sekecil itu, monyet mengalami stres. Stres membuat monyet lebih rentan terhadap penyakit.

Pram mengakui bahwa beberapa pihak memang akan dirugikan. Namun, yang lebih penting saat ini adalah kepentingan publik Jakarta secara luas. Publik Jakarta mesti sadar akan risiko topeng monyet dan isu lingkungan terkaitnya. Setelahnya, barulah memikirkan nasib pihak seperti pekerja topeng monyet.

Menurut Pram, topeng monyet di jalanan memang harus dirazia lebih dahulu. Monyet di jalanan memiliki interaksi lebih banyak dengan manusia sehingga berisiko lebih tinggi.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Kasus Laura Anna Lumpuh karena Dislokasi Tulang Leher Setelah Kecelakaan, Kondisi Apa Itu?

Fenomena
4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

4 Makanan Pahit Namun Kaya Manfaat untuk Kesehatan

Oh Begitu
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Hantam Indonesia hingga 9 Desember

Fenomena
Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Video Viral Siswi SMA Mencoba Bunuh Diri karena Video Asusila Tersebar, Apa Dampaknya bagi Korban?

Kita
Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Apa Itu Sotrovimab, Obat Antibodi yang Disebut Mampu Lawan Omicron?

Oh Begitu
Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Inggris Setujui Obat Covid-19 Sotrovimab, Tampaknya Bisa Lawan Omicron

Oh Begitu
Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Cara Unik Semut Bagikan Informasi pada Kawanannya, Muntahkan Cairan ke Mulut Satu Sama Lain

Oh Begitu
Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Imunisasi Kejar, Susulan Imunisasi Dasar yang Tertunda untuk Anak

Oh Begitu
Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Orbit Bumi Berfluktuasi Pengaruhi Evolusi, Ilmuwan Temukan Buktinya

Fenomena
[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

[POPULER SAINS] WHO: Dunia Ciptakan Ladang Subur bagi Varian Baru Berkembang | Robot Pertama yang Bisa Bereproduksi

Oh Begitu
5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

5 Bintang Paling Terang yang Menghiasi Langit Malam

Oh Begitu
Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Dahsyatnya Letusan Gunung Vesuvius Setara Bom Atom Hiroshima, Ini Kata Arkeolog

Fenomena
4 Tahapan Siklus Menstruasi

4 Tahapan Siklus Menstruasi

Kita
Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Unik, Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Ekor Lapis Baja di Chili

Fenomena
Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Ukuran Gigi Taring Manusia Menyusut Seiring Waktu, Kok Bisa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.