Mobil Murah, Gaya Hidup "Sedentary", dan Polusi

Kompas.com - 03/10/2013, 19:04 WIB
Kemacetan lalu lintas terlihat dari dalam bus Transjakarta di Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (23/1/2013). KOMPAS IMAGES / VITALIS YOGI TRISNAKemacetan lalu lintas terlihat dari dalam bus Transjakarta di Jalan Jendral Sudirman, Jakarta Selatan, Rabu (23/1/2013).
|
EditorAsep Candra

KOMPAS.com —
Peluncuran berbagai merek mobil murah atau yang dikenal juga dengan program low cost green car (LCGC) belum lama ini menuai kontroversi di tengah-tengah masyarakat.

Di satu pihak, penambahan volume mobil dikhawatirkan memperburuk kondisi kemacetan. Sementara di sisi lain, LCGC membuka kesempatan lebih besar bagi masyarakat untuk mampu membeli mobil.  

Terlepas dari kontroversi tersebut, meningkatnya daya beli mobil juga artinya mengurangi kecenderungan orang untuk menggunakan transportasi umum. Padahal, menggunakan transportasi umum merupakan salah satu cara untuk mengurangi gaya hidup kurang aktivitas fisik atau sedentary lifestyle.

Menurut pemerhati gaya hidup dan ahli fisiologi, dr Grace Judio-Kahl, gaya hidup di negara-negara yang sudah maju justru sudah meninggalkan gaya hidup sedentary dan memperbanyak aktivitas berjalan kaki. Berbeda dengan di Indonesia, gaya hidup sedentary justru sedang menjamur di mana-mana.

"Di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, justru banyak yang memiliki gaya hidup sedentary, lebih banyak duduk, kurang berjalan. Dengan menggunakan transportasi umum, paling tidak, bisa lebih banyak jalan dan bergerak," katanya saat dihubungi Kompas Health, Rabu (2/10/2013).

Gaya hidup sedentary, jelas Grace, merupakan faktor risiko dari banyak penyakit, terutama yang berhubungan dengan sindrom metabolik. Asam urat, diabetes, penyakit jantung, merupakan penyakit-penyakit yang dipicu oleh gaya hidup tersebut.

Grace mengatakan, bertambah mudahnya hidup, tidak perlu berjalan jauh untuk mencapai tujuan, dapat mengurangi kebutuhan kalori manusia. Misalnya, jika banyak berjalan, seseorang butuh makan 2.000 kalori per hari. Saat tidak terlalu aktif, dia hanya butuh 1.500 kalori per hari.

"Manusia memiliki laju metabolisme basal (BMR), yaitu kebutuhan energi untuk hidup seperti mempertahankan temperatur tubuh, kerja paru-paru, detak jantung, dan sistem tubuh lainnya. Jumlah kalori yang dibutuhkan untuk BMR relatif tetap, namun kalori tambahan untuk kegiatan lain itulah yang berbeda, tergantung aktivitas fisiknya," papar pemilik Klinik lightHOUSE ini.

Grace membandingkan, seseorang yang tidak melakukan aktivitas fisik, seperti banyak menggunakan kendaraan pribadi dan tidak berolahraga, kebutuhan kalorinya hanyalah BMR ditambah 30 persen. Sementara seseorang yang aktif bergerak kebutuhan kalorinya bisa mencapai BMR ditambah 40 hingga 50 persen.

Sayangnya, imbuhnya, banyak yang tidak menyadari kebutuhan kalorinya sudah berkurang dan tetap mempertahankan kebiasaan makan dalam jumlah banyak. Alhasil, berat badan jadi meningkat.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X