Kompas.com - 10/09/2013, 12:29 WIB
Ikan aligator (Atractosteus spatula) Wikimedia CommonsIkan aligator (Atractosteus spatula)
EditorYunanto Wiji Utomo

Secara terpisah, Fayakun Satria, Kepala Balai Penelitian, Pemulihan, dan Konservasi Sumber Daya Ikan di Balitbang Kementerian Kelautan dan Perikanan, juga menyangsikan laporan keberadaan ikan piranha itu. Ia juga menduga ikan tersebut sejenis bawal.

"Saat awal-awal laporan adanya ikan aligator itu, kan, yang disebut malah ikan arapaima. Bisa jadi salah identifikasi," katanya.

Meski demikian, tahun 2014, pihaknya menganggarkan kegiatan survei untuk memastikan kebenaran introduksi piranha terjadi di Cirata. Kegiatan itu juga untuk mendapatkan spesimen piranha jika terbukti benar.

Dampak langsung

Dihubungi dari Jakarta, Muhammad Husein dari Masyarakat Akuakultur Indonesia dan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di Purwakarta mengatakan, keberadaan ikan aligator yang terlepas di waduk selama hampir satu tahun terakhir sangat meresahkan nelayan. Ia terkejut ada laporan bahwa Waduk Cirata terintroduksi piranha.

"Kalau benar ikan piranha telah masuk ke waduk kami, kenapa pemerintah diam saja. Harusnya segera menyosialisasikan secara luas agar masyarakat berhati-hati," kata Husein.

Ikan piranha dan aligator sama-sama bersifat komunal. Ikan piranha, meski berukuran kecil, memiliki gigi-gigi setajam silet. Bersama kelompoknya, ikan tersebut bisa menghabiskan satu ayam dengan cepat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keduanya termasuk dalam spesies invasif yang diduga kuat masuk melalui para penghobi atau pengoleksi ikan. Dalam berbagai kesempatan, Guru Besar Perikanan Universitas Diponegoro Slamet Budi Prayitno menjelaskan, ikan-ikan invasif tersebut bisa masuk ke ekosistem sungai atau danau/waduk secara sengaja atau tidak.

"Untuk ikan piranha, seharusnya secara tegas tak boleh masuk ke Indonesia," katanya. Namun, biasanya, memasukkan ikan piranha dilakukan dengan melaporkannya sebagai ikan bawal. Bentuk fisik keduanya yang mirip bisa mengelabui petugas yang kapasitas identifikasinya terbatas.

Di alam, keberadaan flora dan fauna invasif berdampak pendek dan panjang pada ekosistem. Dalam jangka pendek, flora-fauna asli akan berkurang, sedangkan dampak panjangnya adalah kepunahan tanpa sempat memanfaatkan keanekaragaman hayati. (ICH/KOMPAS CETAK)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.