Harimau Sumatera, Pesan Kematian dari Sorot Mata Sang Datuk

Kompas.com - 02/09/2013, 08:57 WIB
Sepasang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Selasa (16/3). Perburuan liar dan perdagangan gelap merupakan ancaman paling serius yang dihadapi satwa dilindungi tersebut saat ini yang kian mendekati kepunahan. KOMPAS/LUCKY PRANSISKASepasang Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta, Selasa (16/3). Perburuan liar dan perdagangan gelap merupakan ancaman paling serius yang dihadapi satwa dilindungi tersebut saat ini yang kian mendekati kepunahan.
|
EditorLaksono Hari Wiwoho

Mata yang pernah menyorotkan keganasan, kebuasan, dan keliaran itu kini memancarkan kepasrahan, kesakitan, dan keibaan. Taring yang dulu tajam untuk membunuh, mengoyak, dan mencabik daging itu kini telah patah habis.

Tubuh yang pernah memancarkan keperkasaan sekaligus keluwesan itu kini kurus seperti tulang berbalut kulit loreng hitam-jingga. Auman yang dulu menggetarkan dan membuat merinding itu kini berganti menjadi rintih menahan sakit.

Seperti itulah perilaku seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Melani (17) dalam kandang besi di Rumah Sakit Hewan Taman Safari Indonesia, Cisarua, Kabupaten Bogor, Minggu (1/9/2013).

Melani sudah berada di TSI sejak 1 Juli 2013 untuk diselamatkan dari sakit kronis. Lambung, hati, pencernaan, dan jaringan syaraf Melani rusak diduga akibat selalu mengonsumsi daging berformalin selama di Kebun Binatang Surabaya.

Kisruh pengelolaan KBS sehingga satwa koleksi terlantar, termasuk Melani, memaksa Kementerian Kehutanan mengeluarkan instruksi pemindahan dan penyelamatan harimau sumatera tersebut ke TSI. Saat tiba, bobot Melani cuma 45 kilogram sehingga amat kurus dan lebih terlihat seperti kucing peliharaan daripada satwa berjuluk datuk atau raja rimba.

Di TSI, Melani dirawat secara intensif oleh enam dokter spesialis harimau. Binatang ini sempat diinfus karena susah makan. Diberi daging segar, Melani emoh mengunyah. Tim memberi Melani daging olahan berkualitas tinggi dan bervitamin yang impor dari Australia. Daging berupa gumpalan seperti bakso itu pun harus disuapkan sebab Melani benar-benar enggan makan. Jika diberi daging yang kurang halus, Melani malah akan diare dan muntah.

Seminggu lalu, bobot Melani sempat mencapai 51 kilogram. Namun, bobot turun lagi akibat Melani susah makan. Dalam sehari, Melani hanya mampu menghabiskan 1,5 kilogram daging. Padahal, harimau sumatera idealnya mengonsumsi 6-9 kilogram daging sehari. Pelbagai upaya telah ditempuh untuk mempertahankan hidup Melani. Saat dijenguk pada Sabtu (31/8/2013), Melani berbobot 48 kilogram.

"Saya sungguh heran, Melani seperti menahan sakit, kehilangan semangat hidup, dan menunggu kematian," kata Tony Sumampau, bos TSI, saat mendampingi peserta Orientasi Wartawan Konservasi (Owa-K).

Penangkaran

Masih ada beberapa harimau sumatera yang sedang dirawat di penangkaran TSI. Namun, berbeda dari Melani, macan-macan di penangkaran itu masih memancarkan semangat hidup bahkan sifat alaminya yang liar dan galak tetapi mengagumkan.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X