Makam Inggris Berkisah tentang Perang Napoleon di Jatinegara

Kompas.com - 28/08/2013, 19:42 WIB
Nisan Letnan Kolonel William Campbell di Gereja Anglikan, Jakarta Pusat. Campbell merupakan serdadu Inggris yang turut bertempur dalam Perang Napoleon di Meester Cornelis. Dia terluka pada pertempuran 26 Agustus 1811, lalu tewas dua hari kemudian Mahandis Y. Thamrin/National Geographic IndonesiaNisan Letnan Kolonel William Campbell di Gereja Anglikan, Jakarta Pusat. Campbell merupakan serdadu Inggris yang turut bertempur dalam Perang Napoleon di Meester Cornelis. Dia terluka pada pertempuran 26 Agustus 1811, lalu tewas dua hari kemudian
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Sebelum Lord Minto bertugas sebagai Gubernur Jenderal pada 1807 di India, sejatinya dia telah berencana untuk mengurangi kendali Perancis atas pulau Mauritius, Bourbon, dan Jawa.

Pada 1810, Belanda takluk atas Perancis sehingga seluruh daerah kekuasaannya dicaplok Perancis, termasuk Jawa. Napoleon Bonaparte menunjuk seorang Belanda bernama Jenderal Jan Willem Janssens sebagai Gubernur Jenderal di Jawa yang menggantikan Herman Willem Daendels.

Sementara itu, Inggris berusaha melanjutkan peperangannya terhadap Perancis. Perang Inggris-Perancis boleh dikatakan sebagai perseteruan bebuyutan sejak awal milenium kedua silam. Panggung Perang Napoleon di Eropa pun menjalar hingga ke Jawa.

Apa yang dibayangkan Minto terlaksana. Sebuah ekspedisi militer Inggris bergerak melintasi Samudra Hindia menuju Jawa pada pertengahan 1811. Ekspedisi tersebut dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Samuel Auchmuty, seorang Amerika yang pernah membantu Inggris dalam Perang Kemerdekaan Amerika.

Hampir 12.000 tentara dan 100 kapal, termasuk 4 kapal perang, 14 kapal pengawal, 7 kapal penjaga, dan 8 kapal penjelajah East Indian Company berada dalam konvoi laut militer Inggris tersebut. Kelak sejarah mencatatnya sebagai ekspedisi militer terbesar sebelum Perang Dunia Kedua!

Mereka membuang sauh di Teluk Batavia pada pukul dua siang di hari Minggu, 4 Agustus 1811. Kemudian para serdadu Inggris berjejak di Cilincing, daerah rawa di pesisir Batavia. Tiga hari kemudian mereka berhasil menyeberangi Sungai Ancol, dan bergerak dalam senyap menuju Kota Batavia.     

Pengepungan dan penyerangan Balaikota Batavia dilakukan pada pukul sebelas malam. Serdadu Inggris tidak mengalami kesulitan memasuki kota ini lantaran tembok yang mengelilingi kota ini telah dirobohkan oleh Daendels pada 1808-1810. Pusat kota yang tadinya dalam pelukan Perancis pun jatuh dengan mudah dalam cengkeraman Inggris.

Sebelum azan subuh berkumandang pada 10 Agustus 1811, serdadu Inggris telah bergerak menyusuri pinggiran kanal Molenvliet—kini Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada—menuju sebuah kawasan barak-barak militer di Weltevreden—kini seputar Lapangan Banteng. "Bangunan rumah sepanjang jalanan yang kami lalui umumnya mewah," demikian kenang Mayor Brigade William Thorn dalam bukunya, Memoir of the Conquest of Java yang terbit pada 1815.

Pertempuran Weltevreden yang bergolak saat terbitnya matahari itu berlangsung sekitar dua jam. Thorn yang kala itu turut terluka di bagian kepalanya mencatat bahwa jumlah serdadu Inggris yang terluka, tewas, dan hilang sebanyak 99 orang, plus tiga kuda tewas.

Ekspansi militer Lord Minto berlanjut menyisir Kwitang, Kramat, dan Salemba menuju Meester Cornelis, sebuah kamp militer serdadu Napoleon dengan pertahanan benteng di pinggir Ciliwung. Kini, benteng itu telah lenyap. Lokasinya di sekitar Pasar Jatinegara.

Halaman:
Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X