Kompas.com - 25/08/2013, 16:45 WIB
EditorYunanto Wiji Utomo
KOMPAS.com - “Saya rawat, tidak akan saya jual,” ujar Ruskan dengan bahasa Jawa halus. “Kalau perlu saya melakukan pekerjaan lain.” Dia merupakan pembuat batu bata berusia 65 yang menemukan bangunan air dari bata ketika sedang menggali tanah di belakang rumahnya, Nglinguk Wetan pada Desember 2009.

Atas kesadarannya, dia melaporkan ke BP3 dan merawat temuan yang mirip kolam seluas lapangan bola voli itu. Ruskan pun rela tidak melanjutkan penggalian lagi karena lahannya berada di situs bersejarah. Bahkan, dia memilih membeli tanah dari luar Trowulan untuk bahan baku batu batanya. Kini, cucunya diangkat sebagai juru pelihara kolam kuno itu.

Tulus Andrias sedang sibuk di bengkelnya ketika saya bertandang. Lelaki kurus bersuara lirih ini menemukan 16 artefak besi dan gading di galian linggan (pabrik batu bata tradisional) di belakang rumahnya, Desa Sentonorejo, pada April 2010. Tak hanya itu, dia juga melaporkan atas temuan 16 sumur kuno di lokasi yang sama.

Tulus diganjar ucapan terima kasih sebesar Rp2,5 juta. Di linggannya yang masih mengepul dia menghampiri saya dan berucap lirih tentang apa yang sudah dipikirkannya sejak dulu, tetapi tak sampai hati mengatakannya: “Aku punya anak laki-laki apakah bisa dikaryakan di museum?”   

Saya menjumpai Misdi, lelaki berusia 61, mantan buruh linggan Tulus. Dia pernah menemukan tinggalan Majapahit yang menggegerkan seisi desa.

Di belakang rumah Tulus pada Agustus 2003, sebuah mata tombak besi sebagian berlapis emas sepanjang 66 sentimeter itu tak sengaja tercangkul oleh Misdi. Tombak itu berhiaskan motif lengkung ukiran gajah dan babi.

Misdi menerima imbalan jasa sebesar Rp9 juta karena telah meneyerahkan temuan mata tombak itu kepada BP3. Temuan Misdi itu kini bisa disaksikan masyarakat di Museum Mpu Tantular, Sidoarjo. “Saya sekarang kerja di Museum Trowulan sejak 2005 sebagai pegawai honorer merawat taman dan koleksi,” katanya.

Saya berjumpa Yoesoep, seorang pemuda yang bekerja sebagai tenaga lokal untuk tim ekskavasi Pusat Arkeologi Nasional. Dia menyerahkan secara sukarela empat kepala figurin terakota dan koin Cina abad ke-13 dari Sung Selatan yang ditemukan di linggannya kepada ketua tim ekskavasi.

Tenaga lokal lainnya juga turut menyerahkan umpak segi delapan dan batu ambang pintu yang diangkat dari linggan-linggan mereka. Tanpa pamrih, mereka menyerahkan temuan-temuan itu, meskipun para arkeolog tidak menggantinya dengan imbalan uang.

Kisah-kisah pelestari tadi mungkin hanya teladan kecil betapa pentingnya pemahaman antara harapan pemerintah dan kepedulian masyarakat.

Saya menemui Koordinator Museum Majapahit yang belum lama menjabat, Wicaksono Dwi Nugroho. Lelaki muda itu merintis “Komunitas Jawa Kuno” yang sebulan dua kali bertemu di Museum Trowulan untuk bergiat bagaimana menulis huruf dan angka Jawa kuno, hingga membaca prasasti.

Meskipun baru berjalan sekitar dua tahun, paguyuban ini sudah menggaet anggota sejumlah 30-40 orang awam asal kota-kota di Jawa Timur dan Yogyakarta.
 
Ketika Wicaksono masih menjabat Kepala Sub Pengamanan Cagar Budaya, BP3 Jawa Timur, dia kerap melakukan kunjungan ke linggan-linggan di daerah padat temuan arkeologis—sekitar kanal. Saat membaur dengan warga untuk bertegur sapa atau memberikan pemahaman cagar budaya itulah Wicaksono menyadari bahwa masyarakat Trowulan sebenarnya punya kepedulian, namun terlanjur dijustifikasi sebagai agen perusak. Dia menduga bahwa hal itu terjadi karena mereka terlalu lama tidak dilibatkan dalam kegiatan pemeliharaan.

Sejak 1986 Trowulan telah mempunyai Rencana Induk Arkeologi, namun yang terlupakan saat itu—dan hingga kini—adalah aspek sosial budaya masyarakat, demikian hemat Wicaksono. Akibatnya banyak muncul permasalah antara pelestarian dan aktivitas masyarakat.

“Apa yang masyarakat lakukan—melaporkan temuan—itu memerlukan perhatian dan penghargaan lebih dari kita,” ungkapnya, “dan kadang hal itu terlupakan.” (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Oh Begitu
Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Oh Begitu
Inggris Disebut Berhasil Keluar dari Pandemi Covid-19 Pertengahan Januari, Ini Kata Ahli

Inggris Disebut Berhasil Keluar dari Pandemi Covid-19 Pertengahan Januari, Ini Kata Ahli

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.