Benarkah Hubungan Monogami Didasari Cinta dan Romantisme?

Kompas.com - 01/08/2013, 08:24 WIB
Meerkat dapat membentuk ikatan monogami seperti yang selalu didambakan kebanyakan manusia. AAASMeerkat dapat membentuk ikatan monogami seperti yang selalu didambakan kebanyakan manusia.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com
 — Perilaku monogami yang ditunjukkan oleh beberapa spesies mamalia terdengar romantis. Namun, ternyata perilaku tersebut dilakukan dengan alasan yang lebih rasional daripada sekadar rasa cinta kepada pasangannya.

Diberitakan AP, Senin (29/7/2013), dua tim peneliti berbeda menguraikan alasan kecenderungan mamalia untuk bermonogami. Alasan yang diuraikan kedua tim berbeda, tetapi keduanya setuju untuk tidak memasukkan unsur cinta dan romantisme di dalamnya.

Tim pertama dipimpin oleh Christopher "Kit" Opie, antropolog di University College London. Tim ini meneliti primata yang terdiri dari kelompok kera dan monyet.

Mereka menemukan bahwa hubungan monogami yang dijalin satu pejantan dan satu betina merupakan sebuah langkah agar sang ayah mampu melindungi anaknya supaya tidak dibunuh oleh pejantan lain.

Opie menganalisis perilaku 230 spesies primata dan memetakannya dalam sebuah pohon keluarga. Dengan menggunakan 10.000 model komputer dan penghitungan matematis tertentu, Opie memperoleh timeline kapan keturunan tertentu muncul.

Opie menemukan bahwa sebelum adanya perilaku monogami, angka pembunuhan bayi tinggi. Alasan pembunuhan adalah karena primata harus menyusui bayinya dalam waktu yang lama. Ini merepotkan bagi pejantan pesaing. Jadi, ketika "ayah" dilihat tak ada maka pejantan pesaing akan membunuh bayi-bayinya.

Tim lain yang dipimpin Clutton Brock, seorang profesor zoologi, bersama dengan Dieter Lukas dari University of Cambridge, kurang setuju dengan alasan Opie. Mereka mengatakan jika tidak ada bukti terjadinya pembunuhan bayi sebelum muncul perilaku monogami.

Dari sekitar 2.000 spesies mamalia, kecuali manusia, yang diteliti, tim Brock menyimpulkan bahwa perilaku monogami terjadi akibat adanya kecenderungan mamalia betina menyebar untuk mempertahankan buah-buahan baik dan sukar diperoleh. Ini menyulitkan pejantan mengawini betina lain.

"Pejantan tidak mampu mempertahankan lebih dari satu betina," ujar Lukas. Hal inilah yang memunculkan perilaku monogami.

Perbedaan hasil riset disebabkan karena kedua tim menggunakan metode dan jumlah sampel yang berbeda. Namun, hasil yang diperoleh keduanya telah meruntuhkan teori lama yang menyatakan bahwa perilaku monogami terjadi karena mamalia merasa dua orang tua akan lebih baik untuk mengasuh dan membesarkan anak mereka.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X