"Pembiusan" dalam Ritual Kurban Manusia Suku Inca Terungkap

Kompas.com - 31/07/2013, 08:23 WIB
Mumi Gadis Llullaillaco yang menjadi korban ritual kurban manusia Suku Inca diketahui dibius dengan alkohol dan daun koka sebelum dikurbankan, dibawa ke gunung yang dingin dan dibiarkan mati. Johan ReinhardMumi Gadis Llullaillaco yang menjadi korban ritual kurban manusia Suku Inca diketahui dibius dengan alkohol dan daun koka sebelum dikurbankan, dibawa ke gunung yang dingin dan dibiarkan mati.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Anak-anak korban ritual kurban manusia Copacocha suku Inca berabad-abad lalu ternyata dibius dengan alkohol dan daun koka sebelum dikurbankan dan ditinggalkan mati.

Fakta tersebut diperoleh setelah Emma Brown, arkeolog Departemen Arkeologi University of Bradford, melakukan pengujian pada rambut salah satu mumi korban ritual itu. Temuan dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Ilmuwan sebelumnya menemukan mumi korban ritual Copacocha pada tahun 1999 di sebuah kuil di Gunung Llullaillaco yang terletak pada ketinggian 6.739 meter di atas permukaan laut.

Ada tiga mumi yang ditemukan, masing-masing adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun yang lalu lebih dikenal dengan "gadis Llullaillaco", seorang anak laki-laki, dan seorang anak perempuan yang berusia sekitar empat atau lima tahun.

Ketiga anak korban ritual diperkirakan hidup pasa masa 500 tahun lalu, pada masa Kerajaan Inca mendominasi Amerika Selatan sebelum Eropa datang pada abad 15.

"Pengawetannya sangat fenomenal. Mereka disebut sebagai mumi paling terawetkan di dunia. Ketiga anak yang diawetkan tampak seperti sedang tidur," kata Brown seperti dikutip BBC pada Senin (29/7/2013).

Analisis lebih mendalam pada "gadis Llullaillaco" menguak lebih banyak lagi. "Gadis Llullaillaco" dianggap punya nilai lebih tinggi daripada anak-anak lainnya karena usia yang hampir remaja dan keperawanannya.

Tes pada kepang panjang mengungkap bahwa konsumsi daun koka gadis itu meningkat tajam sebelum kematiannya.

Menurut ilmuwan, kenaikan konsumsi daun koka itu seiring dengan pemilihannya sebagai anak yang akan dikurbankan. Diketahui pula dalam riset sebelumnya, pada masa itu diet gadis ini berubah, dari yang sebelumnya kentang menjadi banyak makan daging dan tepung jagung.

"Dari sejarah Spanyol, gadis menarik dan punya talenta tertentu adalah yang dipilih, Inca memiliki orang khusus yang mencari gadis yang diinginkan lalu memisahkannya dari orangtuanya," kata Brown.

Selain mengonsumsi daun koka, "gadis Llullaillaco" juga mengonsumsi alkohol dalam masa-masa akhir masa hidupnya. Hal ini mengindikasikan bahwa gadis itu benar-benar terbius sebelum diasingkan ke gunung dan dibiarkan mati.

Brown menerangkan, dilakukannya ritual kurban anak bisa beragam.

"Sejarah Spanyol menduga jika anak-anak dikurbankan untuk alasan beragam, sebagai tonggak hidup penting bagi Inca, saat terjadi perang serta bencana alam, namun ada pula yang terjadi karena memang merupakan ritual rutin," ujar Brown.

Menurut Brown, kombinasi dari daun koka, alkohol, dan dingin membantu "gadis Llullaillaco" untuk mati dalam tenang. Mumi ditempatkan di Museum of High Altitude Archaeology di Salta, Argentina. (Dyah Arum Narwastu)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.