Iklan yang Menyesatkan Selama Ramadhan

Kompas.com - 22/07/2013, 10:30 WIB
Seorang warga berdiam diri di Masjid Istiqlal, Jakarta, 10 Juli 2013. Puasa Ramadhan diisi warga dengan kegiatan ibadah di masjid. AP PHOTO / TATAN SYUFLANASeorang warga berdiam diri di Masjid Istiqlal, Jakarta, 10 Juli 2013. Puasa Ramadhan diisi warga dengan kegiatan ibadah di masjid.
|
EditorLusia Kus Anna

Selama puasa Ramadhan, tayangan iklan TV diwarnai oleh  promosi obat mag serta promosi makanan dan minuman yang dihubungkan dengan aktivitas puasa Ramadhan masyarakat.

Momen puasa tidak akan dilewatkan oleh produk-produk yang diyakini kebutuhannya akan meningkat di tengah masyarakat. Sebagai seorang pengajar, peneliti, dan praktisi kesehatan, saya sangat menyayangkan iklan yang tendensius dan terlalu berlebihan, bahkan cenderung membohongi masyarakat. Pemerintah, dalam hal ini Badan Pengawasan Obat Makanan (BPOM), harusnya juga jeli dan mempermasalahkan iklan yang menyesatkan untuk masyarakat.

Promosi obat mag, dalam hal ini yang kandungannya antasida, sudah kebablasan seolah-olah produk ini untuk mencegah agar masyarakat tidak mengalami gangguan lambung selama berpuasa. Padahal, obat ini digunakan hanya untuk mengurangi keluhan lambung dan bukan untuk mencegah orang untuk menderita sakit mag karena berpuasa.  

Wajar, karena dipromosi sebagai obat untuk mencegah sakit mag selama puasa, pembelian obat-obat mag ini sangat tinggi saat bulan Ramadhan.

Secara teori, mestinya kebutuhan obat mag akan menurun selama Ramadhan. Hal ini karena selama menjalani puasa Ramadhan terjadi keteraturan dalam mengonsumsi makanan, pengurangan konsumsi camilan yang tidak sehat untuk lambung, pengurangan konsumsi rokok, dan yang terpenting adanya pengendalian diri selama puasa Ramadhan. Hal inilah yang menyebabkan pasien dengan sakit mag akan lebih nyaman, bahkan merasa sembuh saat puasa Ramadhan. Jadi, seharusnya konsumsi obat mag ditengah masyarakat seharusnya juga menurun. Kenapa hal ini tidak terjadi?

Saya melihat bahwa hal ini berhubungan dengan iklan yang menganjurkan konsumsi obat mag yang mengandung antasida untuk pencegahan. Antasida sebenarnya hanya diberikan jika ada keluhan karena antasida sendiri bersifat menetralkan asam lambung yang terjadi sehingga akan dapat mengurangi keluhan pasien. Oleh karena itu, tidak benar promosi atau iklan obat sakit mag yang menganjurkan minum obat mag untuk pencegahan agar tidak mengalami gangguan mag.

Antasida sendiri sebenarnya dapat menimbulkan efek samping jika tidak digunakan dengan benar. Antasida yang beredar di tengah masyarakat bisa mengandung alumunium, magnesium, atau kalsium. Antasida dapat menyebabkan seseorang menjadi sembelit sehingga membuat pencernaannya menjadi tidak nyaman.

Belum lagi efek samping pada ginjal dari penggunaan antasida yang tidak sesuai dengan aturan. Oleh karena itu, saya berharap masyarakat lebih cerdas dalam melihat iklan-iklan di TV dan tidak otomatis mengikuti anjuran-anjuran dari iklan-iklan tersebut.

Minuman isotonik

Produk lain yang saya amati juga sudah kebablasan adalah anjuran untuk mengonsumsi minuman isotonik saat sahur dan berbuka. Minuman isotonik sendiri adalah minuman yang ditambahkan gula dan elektrolit. Iklan yang muncul juga menganjurkan untuk  mengonsumsi produk tersebut agar terhindar dari kekurangan elektrolit saat berpuasa.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Ingatkan 3T dan Memakai Masker Tetap Prioritas

Oh Begitu
Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Setelah Majene dan Sulawesi Utara, Gempa Guncang Laut Lampung

Fenomena
Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Rekor Suhu Terpanas Bumi Tahun 2020 Lampaui 2016, Begini Analisis NASA

Fenomena
Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Vaksinasi Mandiri, Epidemiolog Tegaskan Vaksin Barang Negara untuk Rakyat

Oh Begitu
Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Bukan Hanya Anda, Badak Pun Sulit Menemukan Jodoh di Masa Pandemi Covid-19

Fenomena
Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Gempa Majene Miskin Gempa Susulan, Begini Analisis BMKG

Fenomena
Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Ilmuwan Afrika Selatan Temukan Senyawa Kimia Pembunuh Parasit Malaria

Oh Begitu
Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Kematian Covid-19 Tembus 2 Juta, Varian Baru Virus Corona bisa Perburuk Pandemi

Fenomena
Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Gempa Majene Kembali Terjadi, BMKG Ungkap Sudah 32 Kali Susulan

Oh Begitu
Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Hari Ini M 5,2 Guncang Sulawesi Utara, Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

BMKG Ungkap Sejarah Gempa di Sulbar, Gempa Majene Sebelumnya Pernah Terjadi

Fenomena
Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Spesies Baru Kelelawar Ditemukan di Afrika, Warna Bulunya Oranye

Fenomena
WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

WHO: Tahun Kedua Pandemi Covid-19 Bisa Lebih Buruk, Ini Sebabnya

Kita
Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Bahaya Polusi Cahaya pada Kesehatan Manusia dan Lingkungan

Oh Begitu
BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

BMKG: Waspada Banjir dan Potensi Multi Bahaya Sepekan ke Depan, Ini Wilayahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X