Kompas.com - 17/07/2013, 14:42 WIB
Ilmuwan menciptakan teknik baru mengangkat benda hanya dengan suara. Teknik ini membantu membuat campuran kimia tanpa perlu khawatir risiko kontaminasi. Dimos PoulkakosIlmuwan menciptakan teknik baru mengangkat benda hanya dengan suara. Teknik ini membantu membuat campuran kimia tanpa perlu khawatir risiko kontaminasi.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Mantra penerbang "Wingardium Leviosa" milik Harry Potter tampaknya sudah tidak ajaib lagi. Diberitakan Fox News, Selasa (16/7/2013), sebuah studi terbaru menyebutkan bahwa para peneliti kini menemukan cara untuk membuat sebuah obyek "melayang" di udara dengan memanfaatkan gelombang suara.

Pengangkatan benda (levitasi) dengan gelombang suara sebenarnya sudah dikenal sejak beberapa dekade lalu. Para ilmuwan menggunakan transducer untuk memproduksi gelombang suara dan reflektor untuk memantulkan gelombang sehingga menghasilkan gelombang transversal.

"Gelombang transversal adalah gelombang yang dihasilkan seperti saat Anda memetik gitar. Senar bergerak naik dan turun, namun terdapat dua titik yang akan selalu tetap," ujar Daniele Foresti, insinyur mesin di ETH Zurich di Swiss sekaligus penulis pendamping dari studi tersebut.

Dengan menggunakan gelombang transversal, para ilmuwan dapat mengangkat setetes kecil cairan. Sayangnya dalam metode sebelumnya gelombang hanya mampu mengangkat benda yang relatif kecil. Cairan yang diangkat pun akan melayang secara terpisah. Benda tidak dapat dipindahkan dengan metode ini.

Berdasarkan risetnya, Foresti memperkenalkan metode baru yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences pada Senin (15/7/2013).

Foresti dan rekan-rekannya merancang transducer mini yang cukup kuat untuk mengangkat benda berat namun cukup kecil untuk dapat dikemas. Sistem baru ini dapat mengangkat benda berat dan menyediakan kontrol yang cukup sehingga cairan dapat dicampur tanpa terpecah menjadi tetesan-tetesan kecil.

Metode ini memungkinkan manusia memanipulasi obyek yang sedang melayang tanpa perlu menyentuhnya. Teknik ini sangat membantu untuk membuat campuran kimia ultra murni tanpa kontaminasi.

Telinga manusia memiliki batas toleransi dalam mendengarkan suara. Frekuensi suara yang akan mengganggu pendengaran manusia adalah sebesar 160 desibel atau setara dengan suara jet yang sedang lepas landas. Namun dalam percobaan ini, frekuensi suara yang digunakan hanyalah sebesar 24 kilohertz. Besaran ini sedikit berada di atas ambang frekuensi bunyi yang mampu didengar manusia pada umumnya.

Yiannis Ventikos, peneliti cairan di University College London yang tidak terlibat dalam penelitian ini, mengatakan bahwa sistem baru tersebut merupakan sebuah kemajuan besar baik secara teoretis maupun aplikasi praktis.

Dalam mencampurkan cairan menggunakan pipet di laboratorium, kontaminasi menjadi isu utama. Kini ilmuwan bisa memakai metode pengangkatan dengan suara ini untuk mencampur tanpa perlu khawatir kontaminasi. Sebagai contoh, ilmuwan dapat mencampur sel punca dengan cairan tertentu secara steril.

"Tingkat kontrol yang bisa Anda capai sangat mengejutkan," ujar Ventikos. (Dyah Arum Narwastu)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Konten TikTok Pembukaan Persalinan Dinilai Pelecehan, IDI Diminta Beri Sanksi Tegas

Oh Begitu
Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Perangi Pemanasan Global, Ilmuwan Ciptakan Cat Paling Putih di Dunia

Oh Begitu
BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

BMKG: Siklon Tropis Surigae Tak Memengaruhi Cuaca Jabodetabek

Fenomena
5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

5 Menu Sahur yang Menjaga Tubuh Tetap Berenergi Selama Puasa

Oh Begitu
Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Tanpa Disadari, Partikel Plastik Ada di Udara yang Kita Hirup

Oh Begitu
Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Okultasi Mars di Malam Ramadhan, Catat Waktunya di Wilayah Indonesia

Fenomena
Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Daftar Wilayah Indonesia yang Bisa Saksikan Okultasi Mars oleh Bulan Hari Ini

Fenomena
Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Sembelit Selama Puasa, Kenali Tipe, Gejala Sembelit hingga Penyebabnya

Kita
Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Daftar Wilayah Waspada Banjir di Indonesia, dari Kalimantan hingga Papua

Fenomena
11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

11 Fenomena Hiasi Langit Indonesia Selama Bulan Ramadhan, Catat Jadwalnya

Fenomena
Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Kekerasan Perawat di Palembang, Ini Sikap Persatuan Perawat Nasional Indonesia

Oh Begitu
Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Puasa Pasien Pasca-Covid, Ahli Ingatkan Pentingnya Konsumsi Air hingga Kekebalan

Oh Begitu
Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Vaksin Johnson & Johnson akan Ditinjau CDC, Setelah Laporan Pembekuan Darah

Oh Begitu
Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Monkeydactyl, Dinosaurus Terbang dari China yang Bisa Panjat Pohon

Fenomena
Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Jangan Lewatkan Makan Sahur Sebelum Puasa, Ini Alasannya

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X