Kompas.com - 08/07/2013, 16:50 WIB

KOMPAS.com - Saya baru saja tiba dari Osaka, Jepang pagi ini setelah akhir pekan ini selama dua hari mengikuti acara seminar tentang Neurosains di Jepang. Perkembangan terakhir tentang kriteria diagnosis dibahas pada seminar ini, terutama berkaitan dengan terbitnya Buku Manual Diagnosis terbaru dari American Psychiatric Association DSM V yang menggantikan DSM IV-TR. Buku diagnosis DSM memang dikenal di kalangan psikiater dunia bukan hanya di Amerika Serikat sebagai “The Bible of Psychiatrist”.

Buku ini memang mengkategorikan berbagai macam gangguan psikiatrik atau kejiwaan dengan gejala dan tanda yang dipaparkan secara khas dan detil untuk memberikan diagnosis kepada pasien. Walaupun dalam kenyataan di lapangan, dalam praktek sering kali pasien tidak selalu muncul dengan gejala khas, dalam pendidikan psikiatrik buku ini amat penting terutama karena keterkaitannya dengan penelitian di bidang psikiatri dan juga pengobatan pasien gangguan psikiatrik.

Gejala fisik dan diagnosis depresi

Selama ini masyarakat bahkan kalangan medis sendiri lebih memahami depresi sebagai gangguan psikiatrik yang bersifat psikologis. Artinya dalam pandangan masyarakat awam dan kalangan medis yang tidak terlalu memahami masalah gangguan kejiwaan, depresi lebih dipandang sebagai sekumpulan gejala psikologis yang ditandai dengan rasa putus asa, kecewa berlebihan, ingin bunuh diri dan ketiadaan harapan.

Sedangkan gejala fisik seperti sulit konsentrasi, kehilangan konsentrasi, rasa lelah yang berlebihan, aktivitas motorik tubuh yang menurun adalah gejala fisik yang jarang dikenal sebagai gejala depresi. Hanya gangguan tidur seperti insomnia yang banyak dikeluhkan pasien dan dianggap merupakan kondisi yang mengganggu.

Selain psikologis yang lebih sering diperhatikan, banyak pasien tidak menganggap bahwa rasa nyeri yang dia alami sebenarnya bisa merupakan gejala depresi ataupun depresinya memperberat kondisi nyeri yang sudah ada. Hal ini tentunya sangat jarang diperhatikan karena gejala yang dikemukakan memang lebih dan sangat bersifat fisik. Di sinilah sering kali pasien mengalami penderitaan yang tak kunjung baik karena masalah nyeri ini mengaburkan gejala depresinya sendiri. Pasie menjadi lebih fokus mencari pengobatan untuk kondisi nyerinya daripada mencari bantuan psikiater untuk menyembuhkan depresinya.

Depresi dan ketidakseimbangan sistem tubuh

Teori terjadinya gejala depresi sudah dikenal secara luas. Sejak diperkenalkan sekitar tahun 70an sampai sekarang teori sistem Monoamine yang melibatkan neurotransmitter atau zat di otak yaitu serotonin, dopamine dan norepineprin adalah teori depresi yang paling banyak dianut oleh para psikiater di dunia.

Obat yang digunakan untuk mengatasi depresi juga dibuat berdasarkan teori ini. Obat lama seperti amitriptyline, mocoblemide, imipramine, clomipramine dan juga obat-obatan baru seperti Fluoxetine (Prozac), Sertraline (Zoloft), Duloxetine (Cymbalta), Venlafaxine (Efexor) adalah obat yang cara kerjanya berusaha untuk menyeimbangkan sistem otak ini. Fluoxetine dan Sertraline mempengaruhi serotonin saja, sedangkan duloxetine dan venlafaxine mempengaruhi serotonin dan norepineprin.

Namun demikian, perkembangan selajutnya tentang depresi tidak hanya sampai pada ketidakseimbangan dopamine, serotonin dan norepinephrine saja. Lebih jauh lagi depresi pada manusia ternyata juga mempengaruhi dan dipengaruhi banyak sistem di tubuh. Sel glia di otak, sistem imun, gen BDNF, glutamate dan masih banyak sistem lain yang terlibat dan terpengaruh dalam depresi.

Tidak heran banyak ahli bukan hanya psikiater tetapi juga para ilmuwan di bidang otak mengatakan bahwa “Depression is a systemic disease” yang berarti depresi ini merupakan penyakit sistemik yang bisa melibatkan banyak organ dan sistem di dalam tubuh.

Depresi ke depannya telah menjadi fokus dalam penyakit di dunia terutama oleh badan kesehatan dunia WHO. Tahun 2020 diprediksikan bahwa beban yang diakibatkan oleh depresi akan menempati nomor dua setelah gangguan jantung dan pembuluh darah. Ini artinya dibandingkan dengan penyakit lain selain jantung, depresi telah diaggap sangat serius dan perlu penanganan yang menyeluruh.

Semoga para pembaca yang mengalami depresi atau mempunyai kenalan atau kerabat yang menderita depresi dapat mengambil keputusan yang tepat untuk segera berobat. Keputusan yang tepat akan pengobatan yang tepat juga akan meningkatkan kualitas pasien depresi. Semoga laporan ini berguna.

Salam Sehat Jiwa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.