Kompas.com - 08/07/2013, 10:45 WIB
Riset menunjukkan, simpanse betina cenderung agresif saat berinteraksi dengan betina lain. Sifat ini mungkin yang diturunkan pada manusia. Anup ShahRiset menunjukkan, simpanse betina cenderung agresif saat berinteraksi dengan betina lain. Sifat ini mungkin yang diturunkan pada manusia.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

Satu bukti penguat lagi yang mendukung bahwa manusia adalah hibrida kera dan mamalia non-kera adalah karakteristik manusia yang secara umum infertil. Menurut ilmuwan, hibrida antar-spesies menghasilkan keturunan infertil.

Bukti infertilitas adalah pada sperma manusia. Menurut McCarthy, sperma manusia sebenarnya "abnomal" bila dibandingkan dengan kera lainnya. Lalu, meskipun manusia bisa menghasilkan banyak sperma, banyak di antaranya sebenarnya tak berfungsi.

Spesies manusia, kata McCarthy, bisa berkembang karena tidak semua hasil persilangan antar-spesies infertil. Ada beberapa yang subur dan mampu berkembang biak, baik dengan yang sama-sama hibrida, maupun yang sejenis dengan orangtuanya.

Hasil hibridisasi lewat proses evolusi terus berkembang, demikian juga dengan kesuburannya. McCarthy mengatakan, mungkin pada awalnya hibrida babi dan simpanse memang rendah punya kesuburan rendah. Namun, dengan jutaan tahun evolusi, kesuburan ditingkatkan.

Proses persilangan antara simpanse dan babi sendiri hingga menghasilkan spesies manusia, jika benar, maka berlangsung jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Ini bukan berarti sekali persilangan kemudian menghasilkan hibrida yang bisa berkembang menjadi manusia.

Proses persilangan tentu pernah mengalami kegagalan yang dalam hal ini menghasilkan keturunan infertil. Proses ini juga disertai dengan backcrossing, dalam hal ini hibrida kawin dengan hewan yang sejenis dengan orangtuanya.

McCarthy terus mencari bukti-bukti yang mendukung asal usul manusia seperti dalam pandangannya. Ia mengatakan, ilmuwan saat ini terlalu tergantung pada genetika. Padahal, analisis genetik punya keterbatasan karena tak mampu menggambarkan adanya persilangan kera dan spesies lain di masa lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.