Kompas.com - 03/07/2013, 14:23 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com
 — Gempa Aceh pada Selasa (2/7/2013) memang hanya bermagnitudo 6,2, tetapi kerusakannya parah. Sebanyak 22 orang tewas, 210 luka-luka, dan ribuan bangunan rusak.

Pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan, "Gempa Aceh kemarin berdampak besar karena sumbernya di daratan dan dekat dengan permukaan."

Gempa berpusat di 181 kilometer dari Banda Aceh, 35 kilometer barat daya Kabupaten Bener Meriah. Kedalaman gempa dangkal, hanya 10 kilometer.

"Karena sumbernya dangkal maka guncangannya sangat terasa dan banyak bangunan roboh," kata Danny saat dihubungi Kompas.com, Rabu (3/7/2013).

Gempa Aceh kali ini mengingatkan kembali pada gempa Yogyakarta bermagnitudo 6,5 yang terjadi pada 27 Mei 2006 lalu. Keduanya sama-sama merupakan gempa daratan.

Gempa Yogyakarta kala itu dipicu oleh aktivitas di sekitar sesar Opak yang memanjang dari Bantul hingga Prambanan, melewati wilayah permukiman.

Saat itu, guncangan gempa terasa selama 57 detik. Akibat gempa yang terjadi pada kedalaman 17 kilometer itu, rumah, bangunan bersejarah, dan fasilitas umum rusak. Ribuan orang tewas.

Danny mengungkapkan, kerusakan yang terjadi akibat gempa dapat dipengaruhi oleh lokasi, karakteristik tanah, dan kualitas bangunan.

"Gempa Yogyakarta sangat merusak karena sesar yang aktif ada di bawah kawasan permukiman penduduk," kata Danny.

"Di Yogyakarta, karakteristik tanahnya juga merupakan endapan vulkanik yang rapuh sehingga mengamplifikasi gempa," imbuh Danny.

Semakin lunak karakteristik tanah, semakin besar kemampuan mengamplifikasi gempa. Dengan demikian, guncangan akibat gempa lebih kuat dan potensi merusak lebih besar.

"Ditambah dengan bangunan di Yogyakarta yang sangat buruk saat itu maka wajar kalau gempa saat itu sangat merusak," ungkap Danny.

Ibnu Rusydy, Peneliti Geo-Hazard Tsunami and Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC)-Unsyiah, mengatakan bahwa pusat gempa Aceh kemarin berada di segmen Aceh.

Segmen Aceh adalah bagian dari Patahan Sumatera yang berdasarkan studi Danny dibagi menjadi 19 segmen, antara lain Seulimuem, Semangko, Musi, dan Barumun.

Danny mengungkapkan, dengan banyaknya bangunan yang rusak di Aceh, maka ia menduga, "wilayah yang banyak mengalami kerusakan merupakan wilayah yang dilewati sesar yang aktif."

Belum diketahui secara pasti karakteristik tanah di lokasi gempa Aceh kemarin. Namun, dengan banyaknya bangunan rusak, bisa dipastikan bahwa kualitas bangunannya masih buruk.

Danny mengatakan, di Aceh, gempa memang lebih sering disebabkan oleh aktivitas tektonik di samudera. Namun, gempa daratan tak bisa diremehkan.

Menurut Danny, gempa daratan dengan magnitud yang tak begitu besar saja bisa sangat merugikan bila tak diantisipasi.

Gempa yang berpusat di samudera memang bisa menimbulkan tsunami, tetapi gempa di daratan juga bisa menimbulkan longsor yang dampaknya tak kalah parah.

Contoh nyata dahsyatnya gempa daratan adalah gempa Tahiti bermagnitudo 7 yang menyebabkan ratusan ribu bangunan runtuh dan menewaskan 200.000 jiwa.

Ibnu, kepada Kompas.com, kemarin, mengatakan, sejak 1892, telah terjadi gempa daratan dengan getaran mencapai VI MMI di sepanjang sesar Sumatera.

Selain itu, ada seismic gap, wilayah yang jarang mengalami gempa, yang perlu diwaspadai. Untuk Aceh, ada tiga segmen yang wajib diwaspadai, yaitu Tripa, Aceh, dan Seulimeum.

Tak adanya gempa wajib diwaspadai sebab sewaktu-waktu energi yang tersimpan di segmen itu bisa lepas menimbulkan gempa.

Danny mengatakan, di wilayah Toba, terdapat sesar aktif yang sudah selama 100 tahun belum melepaskan energinya. Ada pula seismic gap di wilayah Musi, Sumatera Selatan.

Menurut Danny, patahan Sumatera telah dipelajari dan dipetakan secara sistematis. Untuk meminimalkan dampak gempa, diperlukan aplikasi dari hasil studi tersebut.

"Bagaimana perencanaan tata ruang didasarkan pada hasil studi itu. Jangan sampai ada rumah apalagi fasilitas publik yang persis ada di atas sesar," katanya.

"Untuk penduduk yang rumahnya telanjur ada di sekitar sesar aktif, perlu edukasi sehingga mereka siap," imbuh Danny.

Sementara itu, di wilayah Indonesia lain, pemetaan sesar daratan perlu dilakukan sehingga pemerintah daerah memiliki dasar untuk merencanakan tata ruang dengan memperhitungkan risiko gempa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

    Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

    Oh Begitu
    Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

    Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

    Oh Begitu
    Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

    Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

    Kita
    Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

    Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

    Oh Begitu
    Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

    Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

    Prof Cilik
    Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

    Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

    Oh Begitu
    Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

    Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

    Oh Begitu
    Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

    Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

    Oh Begitu
    Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

    Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

    Oh Begitu
    Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

    Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

    Oh Begitu
    Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

    Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

    Oh Begitu
    Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

    Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

    Kita
    5 Objek Paling Terang di Tata Surya

    5 Objek Paling Terang di Tata Surya

    Oh Begitu
    Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

    Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

    Fenomena
    Trenggiling Makan Apa?

    Trenggiling Makan Apa?

    Oh Begitu
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.