Kompas.com - 02/07/2013, 15:43 WIB
Profesor MIT dan mahasiswanya menciptakan perangkat WiVi yang memungkinkan setiap orang melihat orang lain di balik tembok. Yahoo NewsProfesor MIT dan mahasiswanya menciptakan perangkat WiVi yang memungkinkan setiap orang melihat orang lain di balik tembok.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Mau menjadi seperti Superman yang memiliki penglihatan tajam hingga menembus dinding? Kini, ada teknologi yang mendukungnya.

Dina Katabi, profesor di Departemen Teknik Elektronika dan Komputer MIT, dan mahasiswanya, Fadel Abib, menciptakan WiVi (Wi-Fi Vision) yang mampu melihat gerakan orang di balik tembok menggunakan teknologi Wi-Fi yang relatif murah.

Sebelumnya, teknologi yang memungkinkan manusia melihat di balik tembok sudah ada. Namun, harganya sangat mahal sehingga hanya bisa digunakan di kalangan militer.

"Kami ingin membuat perangkat yang berdaya rendah, portabel, dan cukup sederhana untuk digunakan sehingga memungkinkan setiap orang melihat menembus tembok dan pintu tertutup," ungkap Katabi.

WiVi punya cara kerja dasar seperti radar dan sonar. Namun, berbeda dengan radar dan sonar, WiVi memancarkan sinyal Wi-Fi.

Prinsipnya, sebagian kecil gelombang Wi-Fi bisa menembus halangan seperti tembok. Jika di balik tembok ada manusia, bagian gelombang yang menembus tembok akan menumbuknya. Gelombang akan dipantulkan sehingga keberadaan manusia terdeteksi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Penggunaan gelombang Wi-Fi punya kelemahan. Pasalnya, tembok juga memantulkan gelombang ini. Pantulan yang terbaca bisa jadi bukan dari manusia, tetapi dari tembok.

"Kami harus melakukan pengembangan dengan teknologi yang mampu membatalkan pantulan lain dan membaca hanya yang merupakan pantulan dari manusia," terang Katabi seperti dikutip TG Daily, Senin (11/6/2013).   

Untuk melakukannya, Katabi dan Abib menggunakan dua antena pemancar dan satu penerima. Dua antena memancarkan sinyal identik sehingga saling meniadakan.

Ketika menumbuk obyek statis seperti tembok, sinyal yang dipancarkan juga akan memantulkan sinyal identik yang juga saling meniadakan. Dengan demikian, sinyal pantul yang terbaca pasti adalah yang berasal dari obyek yang bergerak.        

Dalam inovasi sebelumnya, dalam mendeteksi adanya orang di balik tembok, harus dipasang banyak perangkat untuk membaca sinyal yang dipantulkan oleh orang tersebut.   

Lewat inovasinya, Katabi dan Abib hanya menggunakan satu perangkat penerima. Saat orang di balik tembok bergerak, jarak antara orang dan penerima berubah sehingga waktu sinyal pantul yang bisa diterima juga berubah. Posisi orang di balik tembok lalu bisa diperkirakan.  

Katabi mengungkapkan, WiVi punya banyak aplikasi, seperti bisa membantu upaya pencarian korban gempa serta mengetahui apakah ada orang yang membuntuti kita dalam perjalanan.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Sumber TG Daily
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.