Riset Gunung Padang Jadi Prioritas, Alasan Harus Jelas

Kompas.com - 11/06/2013, 12:12 WIB
Ilustrasi: Arkeolog UI, R. Cecep Eka Permana, menjadi manajer eksavasi dalam Proyek penelitian Gunung Padang.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOIlustrasi: Arkeolog UI, R. Cecep Eka Permana, menjadi manajer eksavasi dalam Proyek penelitian Gunung Padang.
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemerintah harus bisa menjelaskan secara akademik mengapa situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi prioritas penelitian nasional. Sebab, banyak situs lain yang sudah ditemukan dan membutuhkan riset lanjutan, justru tidak dijadikan prioritas.

Harry Truman Simanjuntak, Guru Besar Arkeologi Prasejarah Universitas Indonesia, mengatakan, selain Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, banyak temuan megalitik di sejumlah daerah di Tanah Air yang membutuhkan riset lanjutan. Misalnya, Sangiran di Jawa Tengah, Goa Harimau di Sumatera Selatan, situs megalitik Lembah Napu dan Bada di Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Barat, serta Lembah Soa di Flores, Nusa Tenggara Timur.

"Jika situs Gunung Padang dijadikan prioritas penelitian, alasannya harus bisa dipertanggungjawabkan secara akademik," kata Harry Truman Simanjuntak di Jakarta, Senin (10/6/2013).

Di Sangiran, misalnya, peneliti semula beranggapan bahwa manusia Jawa saat itu hanya memakai alat dari bambu dan kayu. Namun kini, peneliti dunia menemukan fakta baru berupa bengkel alat-alat batu di Situs Sangiran.

Penelitian di Lembah Soa Flores juga menemukan fakta baru. "Temuan manusia Flores membuktikan, migrasi manusia purba sampai ke wilayah timur," kata Harry. Riset berskala internasional ini membutuhkan riset lanjutan dan dukungan dana dari pemerintah.

Alat berat

Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Edi Sedyawati mengingatkan, riset lanjutan untuk mengupas lapisan tanah di bawah situs megalitik Gunung Padang tidak bisa dilakukan secara gegabah, apalagi menggunakan alat-alat berat.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Lapisan tanah mesti dibuka lapisan demi lapisan. Tidak bisa digali atau dibor begitu saja langsung menuju batu yang dicurigai buatan manusia," kata Edi.

Secara terpisah, Mendikbud Mohammad Nuh menegaskan, penelitian di situs Gunung Padang sudah merupakan kebijakan nasional. Keputusan itu bukan hanya di tangan Kemdikbud, melainkan juga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Komite Pendidikan yang dipimpin Wakil Presiden Boediono. Karena itu, penggunaan bunga dari dana abadi pendidikan untuk riset nasional, seperti situs Gunung Padang dan riset mobil listrik, tidak menyalahi aturan.

Nuh pun mengatakan, biaya penelitian untuk situs Gunung Padang tidak sampai Rp 100 miliar karena hanya berupa penelitian awal dan tidak termasuk biaya ekskavasi. (IND/LUK)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Oh Begitu
3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

Fenomena
Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Fenomena
T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

Fenomena
Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Oh Begitu
7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

Oh Begitu
Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Oh Begitu
5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

5 Hal Penting yang Harus Diketahui tentang Covid-19 pada Anak

Kita
7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

7 Makanan untuk Kesehatan Jantung, Ada Sayuran hingga Ikan

Oh Begitu
Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Peneliti Temukan Fosil Mamalia Darat Terbesar di Dunia, Seperti Apa?

Oh Begitu
Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Kondisi Pandemi Covid-19 di Indonesia Mengkhawatirkan, Ini 5 Rekomendasi Organisasi Profesi Dokter

Oh Begitu
Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Waspada Potensi Gelombang Sangat Tinggi hingga 6 Meter di Perairan Jawa Timur

Oh Begitu
4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

4 Hal yang Harus Dilakukan Saat Keluarga Isolasi Mandiri di Rumah

Kita
Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Ahli Jelaskan 5 Alasan Situasi Pandemi Covid-19 di Indonesia Saat Ini Mengkhawatirkan

Oh Begitu
13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

13 Gejala Covid-19 pada Anak, Demam hingga Nafsu Makan Turun

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X