Kompas.com - 10/06/2013, 19:03 WIB
Editoryunan

KOMPAS.com — Jejak tumor jinak ditemukan pada tulang belulang nenek moyang manusia, Neanderthal, yang berusia 120.000 tahun. Tumor ini mirip dengan yang dimiliki manusia modern saat ini.

Dalam tulang iga yang ditemukan, terjadi kondisi fibrous dysplasia, yakni kondisi kronis ketika tulang tumbuh secara tidak normal. Dengan demikian, ini menjadi tumor tertua yang berusia lebih dari 100.000 tahun.

Tulang ini ditemukan di Krapina, Kroasia, dan mengindikasikan bahwa meski miliki lingkungan yang berbeda, nenek moyang manusia ini juga rentan terhadap tumor, seperti layaknya manusia modern.

Menurut David Frayer, seorang antropolog di University of Kansas, Amerika Serikat, manusia Neanderthal hidup di lingkungan yang kurang sehat karena hidup di goa yang penuh dengan asap. "Mereka kemungkinan menghirup banyak asap di goa. Jadi, udara yang ada tidak sepenuhnya bebas polusi," kata Frayer yang merupakan kolega penulisan laporan ini dan diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE.

Usaha Frayer dan koleganya menemukan bukti tumor tersebut hingga akhirnya masuk dalam jurnal ilmiah merupakan perjalanan panjang. Mereka menggunakan hasil penemuan arkeolog Dragutin Gorjanovic-Kramberger yang menggali goa di sebuah desa Kroasia bernama Krapina pada 1899.

Gorjanovic-Kramberger dan koleganya menyadari bahwa mereka menemukan koleksi terbesar artefak Neanderthal. Penemuan tersebut termasuk tulang hewan, alat bantu, dan sekitar 900 fosil Neanderthal yang berusia 120.000 tahun.

Dalam deskripsinya, Gorjanovic-Kramberger menggambarkan bahwa para pria Neanderthal yang hidup dengan makanan sederhana lebih sehat dan tidak rentan penyakit seperti yang dialami manusia modern.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Namun, kecelakaan lebih sering terjadi di perjuangan mereka untuk bertahan hidup sehingga menyebabkan banyak cedera bahkan putusnya anggota tubuh," tulis Gorjanovic-Kramberger pada tahun 1918. Ditemukan pula bahwa manusia Neanderthal ini juga memiliki kondisi radang sendi, periodontitis, dan tuberculosis.

Bukti awal

Janet Monge, antropolog fisik di University of Pennsylvania, muncul sebagai salah satu pihak yang mempelajari kembali tulang temuan Gorjanovic-Kramberger melalui sinar X-Ray. Awalnya, ia mempelajari rekaman film mengenai tulang tersebut yang diambil pada 1980-an. Namun, karena tulang itu sudah terlalu tua, sulit untuk melihat struktur dalamnya.

Monge dan koleganya kemudian menggunakan mesin mikro CT-Scan yang membagi tiap-tiap imaji menjadi individu yang terpisah-pisah. Teknologi ini membagi tulang iga seukuran 30 milimeter menjadi 500 frame berbeda.

"Kami mampu untuk menyuling semua detail kecil, mikron per mikron. Kami juga mampu memodel ulang area tulang yang hilang," kata Monge.

Inilah yang menunjukkan paling tidak satu Neanderthal menderita fibrous dysplasia, tumor jinak yang bercirikan adanya pertumbuhan abnromal pada satu atau lebih tulang. "Kebanyakan kanker diderita manusia ketika mereka menua. Kebanyakan Neanderthal dan populasi awalnya meninggal ketika mereka tua," ujar Monge. (Melody Kramer/National Geographic Indonesia)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.