Kompas.com - 10/06/2013, 11:22 WIB
Batu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.   KOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTOBatu situs Megalitikum Gunung Padang yang dikelilingi keindahan alam pegunungan di kawasan Cianjur, Jawa Barat, Jumat (15/3/2013). Gunung padang merupakan situs pra-sejarah peninggalan Megalitikum yang berupa punden berundak yang terdiri dari susunan batuan andesit yang umurnya diperkirakan jauh lebih tua daripada piramida mesir sekitar 10.000 tahun sebelum masehi.
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com - Penelitian situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, dari sisi akademis bukan riset prioritas. Masih banyak tahapan riset arkeologis dan multidisiplin ilmu yang harus dilakukan. Karena itu, tidak tepat jika penelitian itu menggunakan dana abadi pendidikan.

Daud Aris Tanudirdjo, dosen arkeologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, mengatakan, riset situs Gunung Padang harus ditempatkan secara proporsional. ”Penelitian tersebut untuk tujuan akademis atau tujuan lain?” kata Daud, Minggu (9/6/2013).

Jika tujuannya akademis dan ilmiah, tidak bisa dilakukan terburu-buru karena perlu kajian mendalam, komprehensif, dan multidisiplin ilmu. ”Dari data awal yang diperoleh, biasanya membutuhkan waktu bertahun- tahun sebelum dilakukan penggalian,” kata Daud.

Karena itu, sambung Daud, penggunaan dana abadi pendidikan untuk penelitian lanjutan di situs Gunung Padang tidak perlu dilakukan. Pemerintah bisa menggunakan dana itu untuk riset atau kegiatan pendidikan lain yang lebih prioritas dan menyangkut orang banyak.

Jika dana ini tetap dikucurkan, Presiden dianggap tidak peka dalam memberikan skala prioritas penggunaan anggaran. ”Kalau penelitian yang wajar dan tidak ambisius, tentunya tidak perlu mengorbankan pendidikan secara umum,” kata Daud.

Ia mengimbau masyarakat dan media ikut mengawasi perkembangan penelitian di situs Gunung Padang. ”Jika dilakukan terburu-buru, masyarakat bisa menduga ada power serta lobi di tingkat atas sehingga penelitian situs Gunung Padang menjadi sangat mendesak untuk dilakukan,” kata Daud.

Supratikno Rahardjo, dosen arkeologi Universitas Indonesia, sangat mendukung jika penelitian situs Gunung Padang dibawa kembali ke ranah akademis. ”Ada banyak indikator kebudayaan yang perlu dipertimbangkan sebelum dilakukan penggalian,” kata Supratikno.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Secara terpisah, Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Kacung Marijan mengatakan, riset akan dilakukan bersama Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Bandung, dan Badan Pelestarian Cagar Budaya Serang. (IND)



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, IMERI FKUI Luncurkan Modul Healthy Aging

Oh Begitu
Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Kita
POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

POPULER SAINS: Penularan Covid-19 Lewat Jenazah Belum Terbukti | Mengubah Persepsi Orang yang Tak Percaya Corona

Oh Begitu
Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Cara Mengobati Sariawan pada Anak

Oh Begitu
Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Apa Itu Kasus Probable Covid-19? Sering Tak Tercatat Dalam Data Kematian

Oh Begitu
Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Kerusakan Hutan Mangrove Indonesia Tertinggi di Dunia, Ini 3 Aspek Penting Rehabilitasi

Oh Begitu
Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Kapal Zaman Mesir Kuno Ditemukan di Laut Mediterania

Fenomena
Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Anak-anak Butuh 7 Gelas Air Per Hari, Ini Dampaknya Jika Kekurangan

Oh Begitu
Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Jangan Lewatkan, Malam Ini Puncak Hujan Meteor Delta Aquarid dan Capricornid

Fenomena
Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Varian Delta Plus Telah Masuk Indonesia, Ini Risikonya Menurut Ahli

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Oh Begitu
Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Pemanasan Global Diprediksi Sebabkan Gelombang Panas yang Intens di Asia Tenggara

Fenomena
Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Banyak Hoaks Berkedok Sains Selama Pandemi, Pola Pikir Kritis Bisa Mencegahnya

Kita
Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Infeksi pada Mata Disebut Komplikasi Covid-19 Tak Biasa di Brasil

Fenomena
WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

WHO: Anak Muda Mulai Kecanduan Tembakau karena Rokok Elektrik

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X