Kompas.com - 09/06/2013, 18:11 WIB
Editoryunan

”Tak hanya pencurian telur dan penangkapan penyu yang bakal meningkat. Polusi cahaya dari lampu kendaraan dan permukiman yang bakal tumbuh di sepanjang jalur jalan ini akan mengganggu navigasi binatang ini dan membingungkan saat akan mendarat,” kata dia.

Laut terancam

Bukan hanya spesies di darat yang terancam, spesies di laut pun terancam. Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional Kumi Naidoo mengatakan, di luar soal keanekaragaman hayati yang terancam, manusia juga bergantung pada laut sebagai sumber protein.

Pelayaran ke Indonesia ini dilakukan seiring kunjungan ke negara-negara Asia Tenggara. Dua negara lain yang didatangi adalah Thailand dan Filipina. ”Ancaman utama sekarang adalah penangkapan berlebihan, pembuangan bahan beracun berbahaya, dan meningkatkan keasaman air laut,” tegas Kumi. Dengan peningkatan keasaman air laut akibat polusi berlebihan, biota di laut akan mati.

Dalam empat dekade, jika emisi gas karbon (gas rumah kaca yang signifikan) tak diturunkan, tambah dia, laut akan hancur jika tak ada kepemimpinan kuat untuk membuat kebijakan penyelamatan laut. Tahun 1992 dalam Konferensi Keanekaragaman Hayati di Rio de Janeiro (Brasil), saat itu konsentrasi gas karbon di bawah 350 bagian per juta (parts per million/ppm) dan disepakati dijaga berada di bawah 350 ppm. Namun, 19 Mei 2013, ada dua pencatat yang mencatat konsentrasi gas CO2 melampaui 400 ppm. Banyak pihak menyebut bahwa ”kita sudah ada pada era baru”.

Gas rumah kaca adalah penyebab terperangkapnya radiasi panas matahari yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global memicu anomali cuaca dan perubahan iklim. ”Asia Tenggara wilayah yang amat terancam dampak perubahan iklim,” tambah Kumi. Kesepakatan pada Konferensi Perubahan Iklim hingga tahun lalu justru memperlemah upaya menekan emisi gas karbon karena aksi penurunan akan ditunda hingga 2020 setelah skema Protokol Kyoto berakhir 2012.

Selain memberi gambaran ancaman terhadap warisan alam itu, Greenpeace menggarisbawahi soal masyarakat adat sebagai penjaga pengetahuan selama bergenerasi sebelumnya. Pesan yang hendak disampaikan Greenpeace setelah pelayaran sang prajurit perang adalah betapa penting menjaga keanekaragaman hayati dan betapa perlunya belajar cara pelestarian lingkungan yang lebih baik seperti ditunjukkan banyak masyarakat adat di Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Prajurit Pelangi takkan pernah menyerah membela kelestarian alam. Ditegaskan Naidoo mengutip Mahatma Gandhi, ”Pertama kita diabaikan, lalu kita ditertawakan, ketiga kita dilawan, keempat... kita menang”.(Brigitta Isworo Laksmi)


 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.