Banjir Membuat Jalan Negara Rusak Parah

Kompas.com - 04/06/2013, 03:11 WIB
Editor

Bandung, Kompas - Kondisi jalan negara yang menghubungkan pusat kegiatan nasional di Jawa Barat, yakni Cirebon dan Priangan Timur ke Bandung, sering rusak parah. Kerusakan tak hanya akibat banjir luapan Sungai Cikijing di jalur jalan Cirebon-Bandung, tetapi juga karena saluran air yang sempit dan tertutup bangunan pabrik serta dijadikannya kawasan sungai sebagai tempat pembuangan limbah.

Jalur ke Priangan Timur, misalnya, kerusakan terjadi di daerah industri, terutama di depan Kahatex, kawasan pabrik garmen seluas 116 hektar di Bandung timur.

Menurut sejumlah warga, kerusakan itu sudah terjadi dalam tiga bulan terakhir. Namun, belum ada tindakan dari pemerintah pusat ataupun pemerintah daerah. Kerusakan ini juga dikeluhkan para sopir angkutan yang setiap hari melewati jalur itu.

”Saya harus menambah biaya bensin karena mobil tak bisa dikendarai dengan cepat. Saya khawatir mengenai lubang dan cepat merusak onderdil,” kata Asep (32), sopir angkutan umum Sumedang-Bandung, Senin (3/6).

      Biasanya, untuk satu kali perjalanan Bandung-Sumedang atau arah sebaliknya, Asep membeli 30 liter bensin. Kini, akibat jalan rusak parah, ia mesti membeli bensin sekitar 45 liter. Selain boros bahan bakar minyak (BBM), kerusakan jalan juga memicu kemacetan panjang dan menyita waktu.

Di wilayah Tanjungsari, Sumedang, misalnya, jalan di depan pasar yang rusak membuat kendaraan besar berhati-hati saat melintas. Saat kondisi normal, wilayah itu memang kerap macet karena pasar tumpah. Namun, dengan adanya jalan rusak, kemacetan makin menjadi-jadi.

”Payah sekali saya membawa batubara dari Cirebon ke Bandung. Jalannya jelek,” ujar Khaeruddin (39), sopir yang mengangkut batubara dari Pelabuhan Cirebon menuju Rancaekek, Bandung. Perjalanan darat biasanya ditempuh empat-lima jam, tetapi kini bisa tujuh jam akibat jalan yang rusak.

Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) Jawa Barat mencatat, dalam sehari jalur Cirebon-Bandung dilintasi 200 truk pengangkut batubara dan 200-250 truk pengangkut pasir. Padahal, bobot angkutan batubara bisa mencapai 30-35 ton per truk. Angkutan pasir juga bisa 1,5 kali lebih berat dari batubara.

Problem infrastruktur tak hanya soal jalan rusak. Di Rancaekek, Kabupaten Bandung, pedagang kaki lima—yang setiap hari membuka pasar di depan pabrik tekstil Kahatex—juga kerap memicu kemacetan panjang.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengakui, kelebihan tonase menjadi salah satu penyebab rusaknya jalan di Jabar.(rek/dmu)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.