Kompas.com - 03/06/2013, 15:58 WIB
Editoryunan

JAKARTA, KOMPAS.com — Tahun ini anomali cuaca kembali mengancam. Para pengamat cuaca dan iklim menyimpulkan, curah hujan dan musim kemarau akan cenderung basah. Itu disebabkan serangkaian anomali di kawasan sekitar Indonesia yang berdampak hingga akhir tahun.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian mengatakan, menghangatnya suhu muka laut di perairan Indonesia menyebabkan curah hujan tinggi di sebagian wilayah Indonesia hingga saat ini.

Lemahnya arus massa udara dari Australia membuat uap air tak terdorong ke utara/daratan Asia. ”Massa udara ini tertahan di atas Indonesia. Akibatnya, wilayah kita terkepung,” kata Edvin di Jakarta, Minggu (2/6/2013).

Pendapat sama dikemukakan Fadli Samsuddin, Manajer Laboratorium Geotech Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. ”Curah hujan tinggi pada musim kemarau ini dipengaruhi suhu muka laut yang di atas normal,” katanya.

Suhu laut di wilayah Pasifik barat, termasuk wilayah Indonesia, relatif hangat dibandingkan dengan wilayah tengah dan timur Samudra Pasifik sehingga penguapan di Indonesia cukup besar. Kondisi itu diperkirakan baru normal akhir tahun ini.

Suhu muka laut di Samudra Hindia timur saat ini juga hangat sehingga suplai uap air ke Indonesia barat dan tengah cukup banyak. Fenomena itu akan berdampak pada wilayah barat: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.

Saat ini, kenaikan suhu muka laut 0,5-1 derajat celsius dan mencapai 2 derajat celsius pada Oktober 2013. Indonesia juga dibayangi anomali lain, yaitu pola hujan bercurah tinggi yang muncul dalam periode 3 minggu hingga 1 bulan (Madden Julian Oscillation/MJO). ”Saat ini MJO di kawasan Afrika. Sebulan ke depan tiba di Indonesia. Kawasan yang terpengaruh umumnya di sekitar khatulistiwa,” kata Fadli.

Deputi Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Bidang Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Thomas Djamaluddin mengatakan, suhu muka laut hangat memicu peningkatan curah hujan pada pancaroba ini. ”Jika berlanjut, berpotensi jadi kemarau basah, kemarau yang banyak hujan seperti tahun 2010,” ujarnya. Saat itu, beberapa jenis pohon buah, seperti durian, mangga, dan manggis, terganggu berbuah.

Terkait pemanasan laut, mekanismenya tak bisa dijelaskan. Namun, itu terkait penerimaan dan distribusi panas permukaan bumi. Di atas laut yang hangat, massa uap air meningkat, sedangkan tekanan udara cenderung berkurang. Daerah itu berpotensi menjadi daerah pembentukan dan berkumpulnya awan yang berarti berpotensi menjadi daerah penerima hujan di atas normal.

Kondisi laut juga sulit ditebak. Ratusan nelayan tradisional di Krui, Lampung, tak melaut setengah bulan terakhir. ”Tahun-tahun sebelumnya, pertengahan Mei adalah dimulainya musim mencari ikan,” kata Kamaruzzaman, Ketua Kelompok Nelayan Pesisir Bersatu di Krui.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Kanker Ovarium Disebut Silent Killer, Shahnaz Haque: Jangan Takut Pengobatannya, Takutlah Penyakitnya

Oh Begitu
NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

NASA Sebut Letusan Gunung Api Bawah Laut Tonga 500 Kali Lebih Kuat dari Bom Hiroshima

Fenomena
Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Studi Baru Ungkap Jumlah Lubang Hitam di Alam Semesta

Oh Begitu
Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Antisipasi Lonjakan Kasus Omicron, PPKM di Indonesia Diperpanjang dan Dievaluasi

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

[POPULER SAINS]: Mengenal Ular Pucuk | Sopir Kalteng Meninggal Disengat Tawon Vespa | Kepunahan Massal Keenam

Oh Begitu
Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Proses Pembekuan Sel Telur untuk Apa?

Kita
Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fakta-fakta Supervolcano, Salah Satunya Ada di Indonesia

Fenomena
Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Ramai Ikutan Jual Foto NFT seperti Gozali, Psikolog: Ini Efek Pandemi Covid-19

Oh Begitu
5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

5 Fakta Planet Kepler-186F, Planet Asing yang Mirip Bumi

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Ilmuwan Ungkap Dua Faktor Genetik yang Sebabkan Hilangnya Bau dan Rasa akibat Covid-19

Oh Begitu
Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Bagaimana Cicak Bisa Menempel di Dinding? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

9 Obat Herbal Stroke yang Ampuh Bantu Kembalikan Fungsi Otak

Kita
Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Orang yang Terinfeksi Omicron Bisa Menyebarkan Virus hingga 10 Hari

Oh Begitu
Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Memahami Cara Kawin Nyamuk Bisa Bantu Perangi Malaria

Oh Begitu
Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Mengenal PCI Jantung, Prosedur Medis untuk Penyakit Jantung Koroner

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.