Siput Merah Jambu Ditemukan di Australia

Kompas.com - 30/05/2013, 12:48 WIB
|
Editoryunan

KOMPAS.com — Di ketinggian dan kelembaban Gunung Kaputar, wilayah dekat Narrabri, barat laut New South Wales, Australia, ilmuwan menemukan dunia kecil yang kaya akan keanekaragaman hayati yang khas.

Dua spesies moluska ditemukan di wilayah tersebut. Satu spesies merupakan siput cantik berwarna merah jambu yang berukuran sekitar 20 cm, sementara satu lagi adalah siput karnivora yang juga kanibal.

Siput merah jambu sebenarnya sudah sering dijumpai oleh warga. Namun, baru akhir-akhir ini taksonom mengonfirmasi bahwa siput yang punya nama ilmiah Triboniophorus aff graeffei itu adalah fauna khas Gunung Kaputar.

Siput kanibal yang ditemukan juga dinyatakan khas Gunung Kaputar. Fauna ini hanya memakan siput pemakan tanaman yang hidup di wilayah yang sama.

 

Cannibal Snail

Siput kanibal tampak memakan siput pemakan tumbuhan

 

Siput -siput yang ditemukan merupakan peninggalan dari masa ketika sebagian besar wilayah timur Australia masih berupa hutan lebat dan lembab. Saat itu, Australia masih menjadi bagian dari benua yang disebut Gondwana.

Erupsi gunung berapi yang terjadi 17 juta tahun lalu memusnahkan sebagian besar hutan. Hanya sedikit wilayah hutan yang tersisa, di antaranya di wilayah Gunung Kaputar. Dalam perkembangannya, hutan yang tersisa terisolasi dan justru menjadi surga spesies invertebrata yang khas.

Spesies-spesies yang ditemukan di Gunung Kaputar secara genetik berbeda. Spesies tersebut hanya bisa ditemukan di wilayah berukuran 10 x 10 kilometer di puncak Gunung Kaputar.

Berdasarkan keunikan area Gunung Kaputar, Scientific Comitee New South Wales menyatakan bahwa Gunung Kaputar adalah "komunitas ekologi yang terancam" serta membutuhkan perlindungan dari gangguan dan ancaman akibat pembangunan.

"Spesies-spesies ini berevolusi dari nenek moyang yang merupakan hewan darat dan terisolasi di lingkungan yang tak bersahabat saat kondisi mulai kering," ungkap Scientific Comitee dalam laporannya seperti dikutip Sydney Morning Herald, Rabu (29/5/2013).

Sebagai akibatnya, spesies-spesies yang ada di Gunung Kaputar rentan terhadap perubahan iklim yang dipicu oleh faktor manusia. Bukan tak mungkin, akibat perubahan iklim, kekayaan hayati yang khas itu akan sirna.

Ilmuwan mengingatkan, kenaikan suhu 2 derajat celsius saja akan mampu membuat wilayah puncak gunung kering.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Waspada Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek, Ini Daftar Wilayahnya

Oh Begitu
Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Mengapa Hujan Seharian Bisa Menyebabkan Bencana Banjir?

Fenomena
Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Tidur Tengkurap Membuat Pasien Covid-19 Terhindar dari Ventilator, Kok Bisa?

Oh Begitu
Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Gempa Hari Ini: M 5, 1 Guncang Pandeglang Terasa hingga Malingping

Fenomena
Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Terlalu Banyak Makan Makanan Manis Bisa Melemahkan Sistem Kekebalan, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Ahli Sebut 140.000 Virus Baru Ditemukan di Usus Manusia

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Kamasutra Satwa: Hewan Bonobo Lakukan Hubungan Sesama Jenis

Oh Begitu
3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

3 Misteri Alam Semesta Berpotensi dapat Nobel Prize, Jika Terpecahkan

Fenomena
Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Di Bawah Sinar UV, Bulu Hewan Ini Menyala Seperti Lampu Disko

Oh Begitu
Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Viral Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Peneliti Sebut karena Kelainan Genetis

Oh Begitu
Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Siapa yang Boleh Donor Terapi Plasma Konvalesen? Ini Syarat Lengkapnya

Kita
Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Sekali Suntik, Vaksin Johnson & Johnson Efektif Kurangi Risiko Covid-19

Fenomena
Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Jangan Minum Obat Pereda Nyeri Sebelum Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Tingkat Imun Bisa Prediksikan Risiko Infeksi Covid-19 Gejala Berat

Oh Begitu
Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Penemuan Kebetulan Microwave, Alat Masak Canggih di Akhir Perang Dunia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X