Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/05/2013, 08:50 WIB
|
Editoryunan

KOMPAS.com - Di dunia internasional, Indonesia disanjung sebagai negara dengan kekayaan hayati terbesar setelah Brasil. Sebutan negara megabiodiversitas pun dilekatkan. Sayangnya, tekanan akan kebutuhan lahan dan kekayaan alam, pelan-pelan mengancam keanekaragaman spesies flora dan fauna Nusantara.

Eksploitasi hutan, gambut, sungai, danau, dan laut secara berlebih untuk kepentingan sesaat bukan langkah bijak. Sebab, sangat terbuka kemungkinan, flora-fauna hingga mikroorganisme penghuni ekosistem itu bisa dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia.

Sejumlah penelitian maupun informasi masyarakat tradisional menunjukkan pemanfaatan itu. Tercatat sedikitnya 7.500 jenis tumbuhan obat ada di Indonesia. Jumlah ini merupakan 10 persen dari tanaman obat di seluruh dunia.

Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan, dari ribuan jenis tanaman obat itu, baru 940 spesies yang diidentifikasi secara ilmiah. Sisanya belum terjamah karena minimnya dana penelitian.

Di tengah keterbatasan pengetahuan, ekosistem di daratan ataupun perairan keburu rusak karena eksploitasi berlebihan. Alasannya, memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia yang populasinya kian tak terkendali.

Hutan di Kalimantan dan Sumatera dipakai untuk penanaman kelapa sawit, digerus kekayaan mineralnya, lahan pertanian, permukiman, hingga infrastruktur. Pesisir laut disedot pasirnya untuk galian C. Badan sungai dan danau pun tak luput menjadi tempat pembuangan limbah.

Tak perlu jauh-jauh hingga ke luar pulau untuk melihat kerusakan ekosistem alam. Sedikit menengok ke sungai di tengah ibu kota Jakarta, Sungai Ciliwung, cukup memberi gambaran. Hasil kajian peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2009, spesies ikan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, dari hulu sampai hilir, mulai punah.

Penyebabnya, badan air Sungai Ciliwung yang merupakan sumber air bagi masyarakat daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi tercemar berat. Dari 187 jumlah spesies ikan dan moluska/krustasea, yang tersisa hanya 15 spesies.

Sedikit ke Jawa Barat, Greenpeace Indonesia, bulan lalu merilis Sungai Citarum tercemar limbah bahan beracun dan berbahaya (B3). Hal itu berasal dari sekitar 500 pabrik yang berdiri di kanan-kiri sungai.

Dari jumlah itu, ditengarai hanya 20 persen yang mengolah limbah. Sisanya membuang limbah langsung ke anak sungai Citarum dan Sungai Citarum.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com