Kompas.com - 16/05/2013, 14:13 WIB
Penulis Tabita Diela
|
EditorLatief

BANDUNG, KOMPAS.com - Sementara sebagian penduduk Jakarta mengutuk musibah banjir yang terjadi hampir setiap datangnya hujan besar, penduduk di wilayah lain justeru menghadapi bahaya kekeringan. Hal ini terungkap dalam penyampaian makalah di Sidang Kolokium Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Rabu (15/5/2013).

Subjek mengenai kekeringan ini disampaikan oleh Wanny K. Adidarma berdasakan makalah berjudul "Perubahan Ciri Kekeringan Pertanian di Pulau Jawa". Makalah tersebut merupakan karyanya bersama William M. Putuhena.

Wanny mengatakan, karakteristik musibah kekeringan jauh berbeda dengan musibah banjir. Musibah banjir dapat diantisipasi dengan tindakan-tindakan spontan, sementara kekeringan dapat datang perlahan-lahan tanpa mampu diantisipasi.

Inilah jenis bencana yang seringkali mengalami overlapping dengan pemberitaan bencana banjir. Padahal, keduanya merupakan musibah berbahaya.

"Dampak dari perubahan iklim terhadap kekeringan sudah mulai terasa di beberapa wilayah di Indonesia. Perubahan intensitas kekeringan tersebut menimbulkan kerentanan terhadap sektor pertanian, terutama padi dan palawija," ujar Wanny.

Untuk membuktikan hal tersebut, Wanny melakukan penelitian di lima lokasi. Kelimanya yaitu, wilayah Cidanau Cilisung Ciliman, wilayah Cirebon, Pemali Comal beserta Daerah Aliran Sungai (DAS) Pemali dan DAS Comal, DAS Solo Hulu, dan wilayah Kedu. Kajian dilakukan oleh Wanny dan William itu menyiratkan bahwa jenis kekeringan pertanian mempunyai hubungan dengan dampaknya.

Kekeringan pertanian digambarkan oleh intensitas kekeringan yang pada umumnya kurang dari 220mm/bulan dan durasi kekeringan kurang dari sembilan bulan. Selama dua hingga tiga dasawarsa terakhir, intensitas kekeringan mengalami perubahan jika dibandingkan dengan durasi kekeringan terutama bagi tanaman padi. Kekeringan untuk padi yang terjadi pada tahun-tahun kering sifatnya lebih merata secara ruang dibandingkan kekeringan untuk palawija.

"Kekeringan pertanian terjadi karena kurangnya hujan bulanan, padahal kebutuhan air lebih banyak," kata Wanny.

Perubahan ciri kekeringan pertanian terjadi dalam bentuk pergeseran tingkat keparahan, makin besar periode ulang, artinya semakin parah. Sementara itu, setiap wilayah juga memiliki perubahan berbeda, namun secara garis besar tingkat kekeringan semakin parah. Lewat penelitian dan pemantauan yang dilakukan oleh Wanny dan William, tampak tren terjadinya kekeringan di wilayah-wilayah sampel tersebut.

"Kalau kita tahu dengan pasti intensitasnya berapa, kita bisa tahu kapan kekeringan dapat terjadi," ujarnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.