Kompas.com - 13/05/2013, 18:39 WIB
|
Editoryunan

KOMPAS.com — Perilaku adopsi anak ternyata tak cuma dijumpai pada manusia, tetapi juga pada hewan. Hal ini mengusik para ilmuwan. Mengapa hewan mengadopsi? Apakah hewan juga punya empati?

Jenny Holland, kontributor National Geographic dan juga penulis buku Unlikely Friendship, yang terbit tahun 2011, berupaya menguraikan alasan perilaku adopsi hewan tersebut.

Beberapa contoh perilaku adopsi hewan dicontohkan. Misalnya, pengguna forum Reddit ramai membicarakan paus sperma yang merawat lumba-lumba hidung botol yang cacat.

Holland juga memberikan contoh lain, seperti anjing yang memelihara anak tupai seperti anaknya sendiri hingga kera yang memelihara kucing.

Dalam buku terbarunya, Unlikely Loves, Holland juga memberikan contoh adanya Dalmatian yang mengadopsi anak lembu dan kambing, yang membantu jerapah muda menemukan kepercayaan diri.

Dalam menguraikan soal perilaku adopsi pada hewan, Holland mengatakan, manusia takkan pernah bisa tahu pasti alasannya. Namun, manusia bisa menduga jika memiliki pengetahuan tentang otak hewan itu.

Dalam kasus tertentu, bisa saja ada hewan yang mengadopsi bayi yang satu spesies dengannya. Hal ini merupakan produk insting.

"Secara insting, hewan merawat bayinya dan membantunya bertahan sehingga ia juga sukses menurunkan DNA-nya," kata Holland.

"Jadi, ada keterkaitan erat di sana, membuat hewan itu juga bisa menawarkan kepedulian pada hewan yang membutuhkan," tambahnya seperti dikutip National Geographic, Jumat (10/5/2013).

Jill Goldman, seorang pakar ekologi perilaku dari California, mengatakan, keinginan untuk sama-sama mendapatkan manfaat juga bisa menjadi latar belakang adopsi.

"Untuk mempertahankan hubungan, saya percaya kedua pihak harus memberikan manfaat dalam hal tertentu," kata Goldman.

"Soal bagaimana mendefinisikan manfaat, itu hal lain. Hubungan sosial dalam hal tertentu memberi manfaat cukup selama tak disertai kompetisi atau ancaman," tambahnya.

Alasan adopsi juga bisa diuraikan dari sisi hormonal. Induk hewan yang telah melahirkan punya hormon oksitosin tinggi, hormon yang memicu bangunan ikatan.

Lalu, bagaimana dengan soal empati pada hewan? Mungkinkah adopsi semata-mata disebabkan oleh rasa empati?

Holland mengatakan, mungkin saja. Mamalia memang punya empati, punya kemauan untuk membebaskan yang lain dari kesengsaraan maupun kesendirian.

"Mamalia punya struktur otak yang sama, sistem yang sama, yang terkait dengan emosi yang kita miliki, jadi mengapa tidak? kata Holland.

Holland mengatakan, perilaku adopsi pada hewan memberi wawasan lain tentang dunia hewan. "Kadang kita tak menghargai mereka sebagai makhluk yang juga kompleks, punya kemampuan berpikir dan berempati," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Cerita di Balik Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Ini Sejarahnya

Oh Begitu
Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Hari Kemerdekaan Ke-77 RI, Sejarah Teks Proklamasi yang Dibacakan Soekarno

Oh Begitu
Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Lomba 17 Agustus Sering Bikin Cedera, Ini Pesan Dokter untuk Menghindari Cedera

Oh Begitu
Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Bunga Bangkai Mekar di Bekasi Sejenis Suweg, Tanaman Apa Itu?

Oh Begitu
Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Lapisan Es Antartika Meleleh Lebih Cepat, Begini Penampakannya

Fenomena
Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Bagaimana Dinosaurus Mampu Menopang Tubuh Raksasanya?

Fenomena
Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Apakah Gigitan Lintah Berbahaya?

Kita
Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Perubahan Iklim Perburuk Penyebaran Penyakit Menular pada Manusia

Oh Begitu
Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Vaksin Baru Covid-19 Diklaim Bisa Lawan Dua Varian Virus Corona, Disetujui di Inggris

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

[POPULER SAINS] Belalang Bisa Mencium Sel Kanker Manusia | Virus Cacar Monyet Ditemukan pada Sampel Dubur | Ancaman Jakarta Tenggelam

Oh Begitu
Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Setelah Peristiwa Jatuhnya Roket China di Indonesia

Fenomena
Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Cara Mencegah Tomcat Masuk Rumah Menurut Pakar

Oh Begitu
Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Status Konservasi Monyet Ekor Panjang Terancam Berbahaya Risiko Kepunahan

Oh Begitu
Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Ikan Channa Maru, Ikan Gabus Predator Primitif Bercorak Indah

Fenomena
Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Berencana Bikin Bangunan di Luar Angkasa, Ahli Kembangkan Semen Khusus

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.