Kompas.com - 17/04/2013, 08:44 WIB
Editoryunan

Oleh IRWAN JULIANTO

KOMPAS.com - Tak kurang dari Gina Kolata, jurnalis sains-kesehatan kawakan koran New York Times, menaruh perhatian pada jurnal online ”pseudo-ilmiah” alias jurnal predator. Ilmuwan yang dimuat tulisannya malah harus membayar.

Tulisan Gina Kolata berjudul ”Scientific Articles Accepted (Personal Checks, Too)” dimuat di New York Times, 8 April 2013, dan dimuat ulang di International Herald Tribune pada 9 April 2013 dengan judul ”Taken in by Pseudo-Academic Journals”. Sebenarnya topik ini sudah ditulis fisikawan Universitas Indonesia, Terry Mart, sepekan sebelumnya dengan judul ”Jurnal Predator” di Opini Kompas, 2 April 2013.

Baik Gina Kolata maupun Terry Mart sama-sama merujuk pada Jeffrey Beall, pustakawan riset Universitas Colorado di Denver, Amerika Serikat. Beall mempunyai daftar hitam jurnal abal-abal yang dijulukinya sebagai predatory open-access journals. Tahun 2010, baru ada 20 penerbit jurnal predator, tetapi saat ini membengkak menjadi lebih dari 300. Ia memperkirakan ada sekitar 4.000 jurnal tipu-tipu saat ini yang siap memangsa ilmuwan yang membutuhkan publikasi artikel ilmiah mereka. Jumlah ini merupakan sedikitnya 25 persen jurnal online atau jurnal akses terbuka yang ada di dunia.

Maraknya jurnal ilmiah online, termasuk yang predator, merupakan akibat tingkat kebutuhan (demand) yang tinggi. Ilmuwan dan akademisi dari negara-negara sedang berkembang membutuhkan publikasi hasil riset mereka di jurnal-jurnal internasional. Di Indonesia, misalnya, akhir Januari 2012 Dirjen Dikti Kemdikbud mewajibkan para kandidat doktor sejak Agustus 2012 mengirimkan karya ilmiah ke jurnal internasional. Prasyarat ”yang betul-betul salah kaprah” ini pernah dikecam habis oleh Franz Magnis-Suseno lewat tulisannya di Kompas, 8 Februari 2012, ”Dikti di Seberang Harapan?”. Juga oleh Inaya Rakhmani lewat tulisannya ”Publikasi Ilmiah dan Solusi Jangka Pendek” di Kompas, 25 Februari 2013.

Jalan pintas

Tuntutan untuk publikasi ke jurnal nasional terakreditasi ataupun jurnal internasional ini tak jarang juga berkaitan dengan syarat kenaikan pangkat dan sertifikasi dosen serta dana hibah riset yang jumlahnya besar. Jurnal cetak internasional bergengsi, seperti Nature dan Science, ataupun jurnal-jurnal ilmu sosial yang diakreditasi nyaris mustahil bisa ditembus karena standar yang tinggi selain penulis harus menunggu antrean amat lama. Jurnal- jurnal bergengsi ini dikenal untuk artikel-artikel ilmiah yang ditelaah pakar seilmu (peer- reviewed) yang teramat ketat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Karena itu, jurnal online merupakan alternatif atau jalan pintas yang menggiurkan. Jurnal open-access baru muncul sekitar 10 tahun lalu, tetapi segera mendapatkan sambutan antusias. Di AS, awalnya jurnal online yang dipublikasikan Public Library of Science amat disegani karena ditelaah pakar seilmu dengan amat ketat. Khusus untuk artikel-artikel ilmu kedokteran didata oleh PubMed, yang diseleksi karena kualitasnya tak perlu diragukan.

Namun, celakanya, keberadaan jurnal-jurnal online bergengsi mulai disaingi oleh jurnal-jurnal predator yang memungut bayaran cukup mahal sebagai imbalan tulisan yang pasti dimuat tanpa seleksi oleh tim pakar seilmu. Para editor jurnal predator ini hanya jadi pajangan, tak jarang mereka dijebak dengan iming-iming imbalan 20 persen penghasilan jurnal, seperti yang dilakukan The Journal of Clinical Trials & Patenting yang diterbitkan Avens Publishing Group, jurnal dan penerbit yang ada dalam daftar hitam Jeffrey Beall.

Thomas Price, asisten profesor endokrinologi reproduksi dan fertilitas di Fakultas Kedokteran Universitas Duke di North Carolina, AS, misalnya, bergabung dalam dewan redaksi The Journal of Gynecology & Obstetrics karena ia melihat nama-nama pakar yang disegani di situs web. Ia heran karena berkali-kali diminta mencari penulis dan memasukkan tulisannya sendiri. Ia menolak karena jurnal ilmiah yang benar tidak perlu melakukan cara-cara seperti itu. Ia sudah berkali-kali, selama tiga tahun terakhir, meminta namanya dicabut, tetapi tetap saja terpampang. Sekali seorang ilmuwan masuk, namanya sulit dicabut.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.