Badak Sumatera di Kalimantan Perlu Penyelamatan Cepat

Kompas.com - 01/04/2013, 08:35 WIB
Editoryunan

JAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah badak sumatera di Kalimantan diperkirakan tak banyak. Penyebabnya, badak yang memiliki daya jelajah luas terjepit di antara dataran tinggi perbatasan Sabah, Malaysia-Kalimantan, Indonesia, serta perkebunan sawit di Kalimantan Timur. Perlu langkah cepat untuk menyelamatkannya.

”Di antara Sabah-Kalimantan ada dataran sangat tinggi dengan lereng curam yang dikenal sebagai Heart of Borneo. Di situ badak sulit mengakses,” kata Hadi Alikodra, Guru Besar Konservasi Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Sabtu (30/3/2013), yang dihubungi dari Jakarta.

Ia menyambut baik penemuan jejak dan bukti keberadaan badak sumatera di Kalimantan oleh tim peneliti WWF Indonesia, Universitas Mulawarman, dan Dinas Kehutanan Kutai Barat, Kalimantan Timur. Jejak itu antara lain bekas kubangan, tapak kaki, daun terpelintir, gesekan cula dan tubuh pada batang pohon, serta kelimpahan 30 spesies pakan badak di dalam rimba.

Temuan ini, kata Hadi, dinilai bisa berperan signifikan dalam peningkatan populasi badak sumatera di Indonesia. Selama ini badak sumatera hanya teridentifikasi di Sumatera dengan jumlah kurang dari 200 ekor. Di Taman Nasional (TN) Way Kambas kurang dari 30 ekor, di TN Bukit Barisan Selatan 60 ekor, Leuser 40-80 ekor, dan tak ada lagi di TN Kerinci Seblat.

Hadi mengatakan, temuan ini harus segera ditindaklanjuti dengan kajian menyeluruh populasi dan penyebaran badak sumatera. ”Jika ada tanda badak sumatera (fauna dilindungi), harus segera dilakukan kajian hutan bernilai konservasi tinggi yang melibatkan Kementerian Kehutanan, LSM, akademisi, serta perusahaan pemilik hak guna usaha,” ujarnya.

Secara terpisah, Marcellus Adi, pemerhati badak dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (Alert) di Way Kambas, mengatakan, temuan badak sumatera di Kalimantan tak terlalu mengejutkan. Dari sisi historis, hal itu ada. ”Selama ini survei di Kalimantan belum dilakukan dengan baik sehingga baru sekarang didapatkan jejak badak,” katanya.

Temuan ini wajib ditindaklanjuti dengan penelitian lebih komprehensif terutama populasi dan penyebaran. Marcellus yang pernah menjadi dokter hewan di Suaka Rhino Sumatera Way Kambas menyatakan, dalam Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Badak Indonesia 20072017, kajian di Kalimantan menjadi mandat untuk dikerjakan.(ICH)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X