Adaptasi Perubahan Iklim, Libatkan Masyarakat Adat dan Agama

Kompas.com - 20/03/2013, 10:01 WIB
Editoryunan

JAKARTA, KOMPAS.com - Kapital sosial perlu dilibatkan untuk melakukan adaptasi perubahan iklim dan bencana. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, masyarakat adat dan pemuka agama merupakan modal sosial yang kuat. Penelitian kerentanan perubahan iklim atau bencana disarankan untuk dikawal agar pemerintah daerah benar-benar mengaplikasikan adaptasi sesuai hasil penelitian.

Hal itu mengemuka dalam Sosialisasi Hasil Riset Kerentanan Iklim di Sikka, Lembata, dan Kefamenanu, di NTT, yang diadakan Plan Indonesia dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI), Senin (18/3/2013), di Jakarta.

Armi Susandi, peneliti perubahan iklim dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB memaparkan penelitian partisipatif tentang kerentanan iklim di Kabupaten Sikka, Lembata, dan Timor Tengah Utara (TTU). Ketiga daerah dipilih karena masing-masing rentan terhadap kekeringan (Lembata), naiknya permukaan air laut (Sikka), serta longsor dan banjir (TTU).

”Di NTT gereja perlu dilibatkan. Sekali Gereja bicara, masyarakat ikut semua. Kalau pendekatan dilakukan dengan ilmu asing, akan muncul resistensi,” kata Victor Rembeth dari HFI.

Dari penelitian, Armi menyusun peta kerentanan setiap daerah, proyeksi kerentanan perubahan iklim di tiga kabupaten, juga potensi bencana di masa depan tahun 2015-2030 untuk bencana lima tahunan. Selain itu, dibuat pilihan adaptasi yang bisa dilakukan daerah, mulai dari adaptasi berbiaya murah hingga yang mahal.

Lembata yang rentan kekeringan bisa beradaptasi dengan memilih alternatif, selain menanam padi. Saat kekeringan melanda bulan Agustus-September, masyarakat bisa menanam palawija. Menurut Armi, peran pemerintah dalam implementasi adaptasi perlu dieksplorasi.

Andi Simarmata dari Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) sebagai penanggap mengingatkan perlunya hasil penelitian di tingkat makro itu diturunkan hingga tingkat mikro. ”Agar komunitas bisa mengakses dan melakukan adaptasi di tingkat komunitas,” kata Andi.

Saat ini, DNPI berupaya menetapkan standardisasi cara melakukan kajian kerentanan, apakah tingkat kerentanan saja atau sampai ke proyeksi bencana sekian puluh tahun ke depan. (ISW)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peneliti Temukan Sedotan Minuman Tertua, Seperti Apa?

Peneliti Temukan Sedotan Minuman Tertua, Seperti Apa?

Oh Begitu
Waspadai Efek Sering Meregangkan Leher hingga Berbunyi 'Krek'

Waspadai Efek Sering Meregangkan Leher hingga Berbunyi 'Krek'

Oh Begitu
Letusan Gunung Berapi Tonga Mengirim Riak ke Angkasa, Ahli Jelaskan Dampaknya

Letusan Gunung Berapi Tonga Mengirim Riak ke Angkasa, Ahli Jelaskan Dampaknya

Fenomena
Karbon Purba Planet Mars Ditemukan Curiosity NASA, Seperti Apa?

Karbon Purba Planet Mars Ditemukan Curiosity NASA, Seperti Apa?

Fenomena
Gunung Anak Krakatau Meletus 2018 karena Longsor Bukan Ledakan Vulkanik, Studi Jelaskan

Gunung Anak Krakatau Meletus 2018 karena Longsor Bukan Ledakan Vulkanik, Studi Jelaskan

Oh Begitu
[POPULER SAINS]: NASA Sebut Letusan Gunung Tonga 500 Kali Lebih Kuat | Gejala Omicron | Banjir Di Banyak Daerah

[POPULER SAINS]: NASA Sebut Letusan Gunung Tonga 500 Kali Lebih Kuat | Gejala Omicron | Banjir Di Banyak Daerah

Fenomena
Daftar Planet yang Tersusun dari Gas dan Es

Daftar Planet yang Tersusun dari Gas dan Es

Oh Begitu
11 Cara Menjaga Kesehatan Otak, Salah Satunya Olahraga

11 Cara Menjaga Kesehatan Otak, Salah Satunya Olahraga

Oh Begitu
Gempa Bumi M 5,5 Guncang Kota Jayapura Papua Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Bumi M 5,5 Guncang Kota Jayapura Papua Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Apa yang Terjadi Jika Supervolcano Meletus?

Apa yang Terjadi Jika Supervolcano Meletus?

Fenomena
CDC: Vaksin Jalan Teraman untuk Melindungi Diri dari Covid-19

CDC: Vaksin Jalan Teraman untuk Melindungi Diri dari Covid-19

Oh Begitu
Gejala Covid-19 Ringan Bisa Sebabkan Penurunan Fungsi Kognitif, Studi Jelaskan

Gejala Covid-19 Ringan Bisa Sebabkan Penurunan Fungsi Kognitif, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Ahli Sebut Longsor Mungkin Jadi Penyebab Letusan Gunung Tonga, Mirip Anak Krakatau 2018

Ahli Sebut Longsor Mungkin Jadi Penyebab Letusan Gunung Tonga, Mirip Anak Krakatau 2018

Fenomena
Puluhan Mumi Ditemukan Saat Menggali Makam Cleopatra di Mesir

Puluhan Mumi Ditemukan Saat Menggali Makam Cleopatra di Mesir

Fenomena
Mengenal Kanker Ovarium: Gejala, Penyebab, Jenis, hingga Stadiumnya

Mengenal Kanker Ovarium: Gejala, Penyebab, Jenis, hingga Stadiumnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.