Gel Silika Siapkan Bunga Bangkai Menuju Korea - Kompas.com

Gel Silika Siapkan Bunga Bangkai Menuju Korea

Kompas.com - 18/03/2013, 10:49 WIB

BOGOR, KOMPAS.com - Bubuk halus berwarna biru perlahan berterbangan keluar dari kotak penyimpanan bagian-bagian bunga bangkai Amorphophallus titanium. Hal ini berlangsung di bagian pembibitan Gedung 9 Kebun Raya Bogor pada hari Rabu, 13 Maret 2013.

Para peneliti di sekelilingnya sibuk bekerja sambil menggunakan masker, agar tak menghirup bubuk silica gel yang didatangkan dari Korea Selatan tersebut. Umbi bunga bangkai yang akhirnya mulai mekar pada sekitar pukul 10.00 pagi itu memang sengaja didatangkan dari Kepahiyang, Bengkulu, untuk dipamerkan dalam ajang International Horticulture Goyang 2013, Korea Selatan pada tanggal 27 April hingga 12 Mei 2013.

“Butuh waktu satu bulan penuh untuk berlatih sebelum menangani pengawetan Amorphophallus titanium ini. Latihannya adalah dengan menggunakan tanaman-tanaman lain,” ungkap Christopher Lim, International Business Team Overseas Trade & Marketing, Goyang International Flower Foundation, Korea Selatan.

Bekerja sama dengan rekan dari Jepang, dengan terampil mereka memotong bunga bangkai ini menjadi tiga bagian, membuang bagian yang sarat air, dan akhirnya memasukkannya ke dalam tiga buah kotak kayu yang sudah disiapkan khusus dari Korea.

Dari sekian pilihan metode pengawetan, akhirnya pengeringan dengan silica gel yang dipilih oleh tim.

“Tahap pertama pengawetan adalah, bunga bangkai dikubur menggunakan dua ton silica gel selama tiga minggu. Kemudian silica gel akan diganti secara bertahap, yang prosesnya akan diteruskan di Korea.” ujar Sofi.

Bunga kebanggaan Bengkulu ini akan dipamerkan bersama sekitar 20 tanaman yang berasal dari Pulau Sumatra, antara lain tanaman epifit termasuk paku-pakuan.

“Pokoknya tanaman yang unik bagi masyarakat di sana,” ungkap Sofi. Setelah pameran berakhir, bunga ini akan dipulangkan ke Kebun Raya Bogor. Menurut Christopher, pihaknya telah menyediakan dana sebesar US$100 ribu (Rp968 juta-an) untuk menjalankan Titanium Project ini. (Titania Febrianti/National Geographic Indonesia)


Editoryunan

Close Ads X