Kompas.com - 22/02/2013, 10:41 WIB
Editoryunan

JAKARTA, KOMPAS.com - Keberadaan ikan hiu dan pari manta di Raja Ampat, Papua Barat, diupayakan dilindungi dari eksploitasi. Kebijakan pemerintah kabupaten yang butuh dukungan patroli keamanan laut itu diharapkan dapat menekan penangkapan dan penjualan biota laut bernilai tinggi tersebut.

Kebijakan itu dituangkan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2012 tentang Larangan Penangkapan Ikan Hiu, Pari Manta, dan Jenis-Jenis Ikan Tertentu di Perairan Laut Kabupaten Raja Ampat. Perda diluncurkan Rabu lalu.

”Populasi hiu dan pari manta penting bagi kami yang hidup dari wisata laut dan perikanan,” kata Manuel P Urbinas, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Raja Ampat, Kamis (21/2/2013), dihubungi dari Jakarta.

Perda itu memperkuat komitmen Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) di Raja Ampat hampir 1 juta hektar, yang dicanangkan lebih dari lima tahun lalu. Kini, ikan hiu dan pari manta dilindungi pada area 4,6 juta hektar perairan laut Raja Ampat. Kehadiran ikan manta pada titik-titik penyelaman jadi daya tarik dan daya jual bagi wisata bawah air.

Sebelumnya, November 2012, ada surat edaran bupati yang menyatakan Raja Ampat adalah kawasan konservasi atau suaka hiu, yang melarang eksploitasi ikan hiu, pari manta, penyu, dugong, dan ikan untuk perdagangan akuarium di seluruh perairan Raja Ampat.

Kepulauan Raja Ampat di barat laut Provinsi Papua Barat merupakan salah satu penyusun penting Segitiga Terumbu Karang atau pusat keanekaragaman hayati laut dunia.

”Bukti ilmiah menyatakan, nilai hiu dan pari manta hidup melampaui keuntungan sesaat dari hiu dan pari manta mati, sehingga menguntungkan bagi pariwisata bahari dan destinasi penyelaman kelas dunia yang semakin populer,” kata Direktur The Nature Conservancy (TNC) Program Indonesia Rizal Algamar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kebijakan itu dinilai penting bagi peningkatan pariwisata dan perikanan berkelanjutan di kabupaten bahari tersebut.

Urbinas mengakui, pelaksanaan perda butuh dukungan aparat keamanan, seperti kepolisian dan TNI. Selama ini, patroli bersama masih kerap dilakukan.

Kajian ekologis TNC dan Conservation International (CI) menunjukkan, Raja Ampat rumah bagi 75 persen jenis terumbu karang di dunia dengan 553 jenis terumbu karang dan 1.437 jenis ikan karang.

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X