Kompas.com - 11/02/2013, 07:15 WIB
|
Editoryunan

WASHINGTON, KOMPAS.com - Wahana antariksa Curiosity berhasil mengebor batu Mars. Menggunakan bor yang terdapat di ujung lengannya, Curiosity melubangi batu Mars selebar 1,6 cm dan kedalaman 6,4 cm.

Pengeboran batuan Mars menjadi salah satu misi utama Curiosity. Bagi anggota tim misi, pengeboran ini sudah ditunggu Curiosity mendarat di Mars 6 Agustus 2012 lalu. Dengan keberhasilan ini, robot enam roda ini berhasil mengoleksi bubuk batuan Mars untuk pertama kali.

"Ini adalah prestasi terbesar bagi anggota tim misis Curiosity sejak penggunakan derek untuk mendaratkan Curiosity Agustus lalu, hari membanggakan lain bagi Amerika," ungkap John Grunsfeld, pejabat NASA, seperti dikutip AFP, Minggu (10/2/2013).

Bubuk batu pertama Mars kali ini diambil dari batu Mars yang disebut John Klein, dinamai sesuai nama anggota tim misi Curiosity yang meninggal tahun 2011 lalu. Batu itu terletak di Yellowknife Bay, dipercaya menyimpan "cerita" tentang lingkungan basah Mars masa lalu.

Dalam beberapa hari, bubuk akan dianalisis. Pertama, bubuk akan disaring lebih dahulu. Kemudian, perangkat analisis yang tertancap pada Curiosity, yaitu Chemin (Chemistry and Mineralogy) serta SAM (Sample and Analysis at Mars) akan menganalisis komposisi bubuk batu itu.

Perangkat Chemin akan mengerjakan sampel sebelum SAM. Pasalnya, hasil analisis Chemin diperlukan untuk menganalisis dengan SAM. "Kita akan mengatur suhu sesuai yang kita lihat pada Chemin," kata Paul Mahaffy, pimpinan investigasi SAM, seperti dikutip BBC, Jumat (8/2/2013).

Selain dianalisis, bubuk batu Mars juga akan digunakan sebagai penggosok dan pemurni. Tim misi akan menggunakan bubuk batu Mars itu untuk menggosok mesin Curiosity, menghilangkan materi yang menempel karena perjalanan dari Bumi ke Mars.

Pengeboran bukan hal yang mudah. Untuk menentukan titik pengeboran saja, tim misi harus melakukan 8 pengeboran di Mars. Tim juga melakukan 1200 pengebooran di Bumi pada 20 macam tipe batuan untuk mengembangkan teknik pengeboran yang tepat.

Keberhasilan pengeboran menambah deretan pencapaian misi Curiosity. Sebelumnya, Curiosity telah menemukan bukti terkuat keberadaan air di Mars, kemiripan bataun dan tanah Mars bahkan fenomena angin puyuh di Mars.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Pemukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Kenapa Jantung Kita Berdetak Lebih Cepat Saat Takut? Sains Jelaskan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.