Kerusakan Mangrove Memiskinkan Warga

Kompas.com - 23/11/2012, 03:51 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Pembabatan mangrove berdampak serius bagi perubahan lingkungan, terutama di pulau kecil berekosistem sangat rapuh. Perubahan itu bisa berupa abrasi, intrusi air laut, hingga menipisnya tangkapan ikan, udang, dan kepiting yang memiskinkan warga.

Berdasarkan penelitian Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), perusakan mangrove berpotensi memiskinkan warga. ”Hitungan kami, setiap penghancuran mangrove 1 hektar berpo- tensi merugikan nelayan perikanan Rp 90 juta per tahun,” kata Abdul Halim, Manajer Program Kiara, di Jakarta, Kamis (22/11).

Ekologi di pulau-pulau kecil yang rusak juga sulit dipulihkan, seperti di Pulau Rewataya, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Tahun 1980-an, ada pembabatan besar-besaran mangrove di pulau seluas 20 km persegi ini untuk dijadikan tambak udang.

Mangrove menghilang, pulau kecil sekitar 1,5 jam perjalanan dari Makassar ini mengalami berbagai masalah lingkungan. ”Dulu di pulau ini ada sumber air tawar, sekarang tak ada lagi,” kata Daeng Ngila, warga Kalukuang, Pulau Rewataya. ”Saat pasang, ombak mencapai rumah hingga selutut. Dulu tak pernah.”

Hilangnya mangrove juga mengakibatkan abrasi dan intrusi air laut ke daratan. ”Tanaman kelapa dan pisang sekarang tak bisa tumbuh,” kata Murniati, guru SD di Rewataya. Enam tahun lalu, ia mengajak warga, khususnya anak didiknya, menanam mangrove.

Menurut Ngila, tangkapan nelayan kian sulit. ”Ikan, kepiting, cumi, dan udang semakin sulit didapat sejak bakau hilang,” katanya. Nelayan di pulau ini kini membudidayakan rumput laut.

Kerugian ekonomi

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Halim, kerugian ekonomi nelayan bisa dihitung dari potensi perikanan yang bisa ditangkap nelayan jika hutan mangrove lestari. ”Kini, nelayan harus melaut lebih jauh sehingga butuh biaya produksi tambahan,” katanya.

Halim mengatakan, hingga saat ini konversi hutan mangrove menjadi kawasan komersial terus terjadi meskipun dampak negatifnya tak terbantahkan. Data Kiara, saat ini terjadi reklamasi pantai di 10 wilayah yang berpotensi merusak ekosistem mangrove lebih 5.775 hektar.

Terjadi pula konversi hutan bakau 400.000 hektar menjadi perkebunan kelapa sawit secara masif, di antaranya di Sumatera dan Kalimantan. (AIK)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.