Kompas.com - 20/11/2012, 18:01 WIB
|
Editoryunan

JAKARTA, KOMPAS.com — Pakaian branded dan mahal tak selamanya lebih baik. Greenpeace mengungkap tujuh merek pakaian ternama yang diproduksi dan atau dijual di Indonesia mengandung bahan beracun.

Fakta tersebut termuat dalam laporan investigasi Greenpeace yang bertajuk "Benang Beracun-Merek Fashion Ternama Terjahit Dengannya". Laporan yang diluncurkan secara serentak di dunia pada Selasa (20/11/2012) tersebut merupakan hasil investigasi pada produk pakaian di 27 negara.

Koordinator Water Patrol Greenpeace Indonesia, Hilda Meutia, menguraikan bahwa untuk di Indonesia, investigasi dilakukan dengan mengoleksi empat sampel produk yang dijual di Indonesia dan delapan sampel yang diproduksi di Indonesia.

"Kami membeli pakaian itu di cabang-cabang resmi, memastikan yang kami beli tidak palsu. Sampel kami kirim ke laboratorium Greenpeace di London," katanya.

Hasil investigasi mengungkap, sebanyak 80 persen produk yang dijual di Indonesia mengandung racun. Untuk produk yang diproduksi di Indonesia, persentase yang mengandung racun adalah 75 persen.

Merek-merek pakaian yang dijual di Indonesia dan mengandung racun adalah Armani, Esprit, GAP, Mango, dan Marks & Spencer, sementara merek yang diproduksi di Indonesia dan mengandung racun adalah Calvin Klein, Esprit, GAP, Levi's, dan Marks & Spencer.

Jenis racun yang terdapat dalam produk pakaian itu adalah NPEs (Etoksilat polifenol). Hilda mengungkapkan, senyawa itu adalah surfaktan yang berfungsi sebagai emulsifier.

Adanya senyawa NPEs dalam produk menunjukkan pemakaiannya dalam proses produksi. Senyawa ini bisa terlepas ke lingkungan perairan saat produk dicuci dan berpotensi merusak ekosistem air dan makhluk hidup di dalamnya atau yang menggunakannya.

Riset menunjukkan, NPEs dapat berfungsi beraksi seperti hormon estrogen, membuat ikan jantan menjadi feminin. Lewat rantai makanan, senyawa berpotensi masuk dalam tubuh manusia dan menyebabkan gangguan hormon.

Ahmad Ashov, Juru Kampanye Air Bebas Racun Greenpeace Indonesia, mengatakan, tujuan laporan ini adalah mengajak para produsen pakaian untuk tidak menggunakan bahan beracun dalam produksinya.

"Greenpeace menuntut merek fashion untuk berkomitmen terhadap nol pembuangan bahan kimia berbahaya pada tahun 2020, H & M dan M & S, dan meminta pemasok mereka untuk mengungkapkan semua bahan kimia beracun yang dilepaskan dari fasilitas mereka kepada masyarakat di sekitar lokasi pencemaran air," katanya.

Ahmad mengatakan, lokasi industri tekstil banyak berlokasi di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jakarta. Dengan praktik tak ramah lingkungan, bahan beracun berpotensi merusak wilayah-wilayah tersebut.

Update: terkait laporan Greenpeace tersebut, Kompas.com akan berupaya menghubungi pihak-pihak yang disebut dalam laporan tersebut untuk dimintai tanggapannya atas tudingan tersebut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hilangnya Serangga Sebabkan Sepertiga Tanaman Pangan Terancam

Hilangnya Serangga Sebabkan Sepertiga Tanaman Pangan Terancam

Fenomena
Overthinking dan Berpikir Keras Bisa Bikin Lelah, Sains Jelaskan Penyebabnya

Overthinking dan Berpikir Keras Bisa Bikin Lelah, Sains Jelaskan Penyebabnya

Oh Begitu
Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Cuaca Panas Berisiko Tingkatkan Kanker Kulit, Ini Kata Dokter

Oh Begitu
Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Bahaya Merokok dalam Rumah, Ini Cara Wujudkan Tempat Tinggal Bebas Asap Rokok

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

[POPULER SAINS] Viral Wanita Curi Cokelat di Alfamart | WHO Ganti Nama Cacar Monyet | Cerita Kejahatan di Kehidupan Nyata | Gelombang Tinggi 6 Meter

Oh Begitu
Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Ilmuwan Deteksi Sambaran Petir Paling Kuat dan Langka, Seperti Apa?

Fenomena
Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Bantu Ahli Deteksi Potensi Penyakit di Masa Depan, Menkes Budi Luncurkan BGSi

Oh Begitu
Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Suku Maya Gunakan Abu Kremasi Manusia untuk Bikin Bola Karet, Studi Jelaskan

Fenomena
7 Jenis Kura-kura yang Dilindungi di Indonesia

7 Jenis Kura-kura yang Dilindungi di Indonesia

Oh Begitu
Gigitan Tomcat Sebabkan Gatal dan Kulit Melepuh, Ini Cara Mengobatinya

Gigitan Tomcat Sebabkan Gatal dan Kulit Melepuh, Ini Cara Mengobatinya

Oh Begitu
Manfaat Tanaman Porang, dari Bahan Pangan hingga Bahan Baku Industri

Manfaat Tanaman Porang, dari Bahan Pangan hingga Bahan Baku Industri

Oh Begitu
Jupiter Sejajar Bulan Malam Ini, Begini Cara Mengamatinya

Jupiter Sejajar Bulan Malam Ini, Begini Cara Mengamatinya

Fenomena
Overthinking dan Gangguan Kecemasan, Apa Itu dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Overthinking dan Gangguan Kecemasan, Apa Itu dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Kita
Mengenal Terapi Lintah, Bisa Atasi Masalah Kulit hingga Penyakit Sendi

Mengenal Terapi Lintah, Bisa Atasi Masalah Kulit hingga Penyakit Sendi

Oh Begitu
Segudang Manfaat Kopi, Benarkah Bisa Bikin Panjang Umur?

Segudang Manfaat Kopi, Benarkah Bisa Bikin Panjang Umur?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.