Kompas.com - 14/11/2012, 09:56 WIB
|
Editoryunan

ROMA, KOMPAS.com — Tulang manusia raksasa ditemukan di Fidenae. Tulang yang ditemukan sejatinya adalah milik seseorang yang mengalami gigantisme, kelainan pertumbuhan yang muncul karena gangguan fungsi kelenjar pituitari.

Simona Minozzi, ahli paleopatologi yang memimpin penelitian ini, mengatakan, temuan ini langka. Kejadian gigantisme hanya 3 per 1 miliar orang. Tulang yang ditemukan adalah yang terlengkap dan tertua yang menunjukkan pada kejadian gigantisme.

Tulang ini ditemukan dalam ekskavasi pada tahun 1991. Tanda kelainan pada tulang sebenarnya sudah diduga ketika melihat nisan tempat tulang dikubur yang lebih panjang. Setelah penemuan, tulang dikirimkan ke laboratorium Minozzi.

Observasi mengungkap, manusia yang ditemukan tulangnya ini adalah pria bertinggi 202 cm. Di abad ke-3 di Roma, tinggi rata-rata pria adalah 167 cm, jadi manusia itu tergolong raksasa. Saat ini, tinggi manusia tertinggi di dunia adalah 251 cm.

Bukti gigantisme di antaranya didapatkan dari analisis tulang tengkorak. Minozzi menemukan, ada kerusakan pada tulang tengkorak yang konsisten dengan tumor pituitari. Hal itu menyebabkan fungsi kelenjar pituitari terganggu, berujung pada pertumbuhan tak terkontrol.

Bukti lain dari gigantisme, seperti diuraikan dalam Journal of Cliniucal Endocrinology and Metabolism, 2 Oktober 2012 lalu, adalah tulang alat gerak yang tidak proporsional. Minozzi dan timnya menemukan, tulang tersebut bahkan terus tumbuh hingga lewat masa pertumbuhan.

Manusia dengan gigantisme itu diperkirakan mati pada umur 16-20 tahun. Kematian diduga terkait gigantisme, berpadu dengan penyakit kardiovaskuler dan gangguan pernapasan. Bagaimana hal itu bisa terjadi, ilmuwan belum mengetahuinya.

Menanggapi temuan tersebut, Charlotte Roberts dari Durham University di Inggris mengatakan, dia yakin tulang tersebut memang milik manusia dengan gigantisme. Namun, ia menyarankan untuk menggali fakta lain, misalnya, bagaimana peran manusia tersebut dalam masyarakatnya dahulu.

Lebih lanjut, seperti diberitakan National Geographic, Jumat (9/11/2012), kemampuan menggali informasi tentang penyakit dari tulang manusia di masa lalu akan memicu kemajuan sains di masa depan.

"Kita telah mampu mengobservasi tulang dari situs arkeologis yang berusia ribuan tahun. Kini Anda bisa mulai untuk melihat tren bagaimana penyakit berubah frekuensinya dari masa ke masa," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.