Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 05/11/2012, 07:21 WIB
EditorLusia Kus Anna

Jakarta, Kompas - Perlemakan hati jangan dianggap enteng. Lemak itu dapat menyebabkan kanker hati.

”Mulai muncul penelitian dan laporan kasus mengaitkan perlemakan hati yang bukan karena alkohol dengan kanker hati. Walau tetap infeksi Hepatitis B dan C penyebab terbesar kanker hati,” kata dokter ahli gastroenterohepatologi pada Divisi Hepatologi FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo dan MRCCC Siloam Hospitals, C Rinaldi A Lesmana, pada Seminar Non Alcoholic Fatty Liver Diseases and Hepatitis Virus Infection, Sabtu (3/11), di Jakarta.

Penelitian di RSUPN Cipto Mangunkusumo yang dipublikasikan tahun 2009 menunjukkan, dari 99 pasien kanker hati, 47 persen penyebabnya Hepatitis B, 17 persen Hepatitis C, dan 34 persen tak ditemukan virus.

”Dari profil penderita yang tanpa virus, umumnya diabetes, obesitas, dan dislipidemia (kelainan metabolisme lemak). Kalau dulu kanker hati identik Hepatitis B dan C, penyebab terbesar kedua justru bukan virus. Ini harus diwaspadai,” ujarnya.

Faktor obesitas

Obesitas punya peran terbesar (primer) meski tak semua penderita perlemakan hati mengalami obesitas. Lemak hati dapat terbentuk karena faktor sekunder, seperti infeksi virus hepatitis, HIV, racun, atau penggunaan obat tertentu. Lemak hati banyak pada orang dengan obesitas sentral (kegemukan sekitar perut).

Setidaknya ada dua kemungkinan. Pada sebagian besar penderita perlemakan hati, fungsi hatinya normal dan stabil. Sebagian lain ada peradangan hati.

Mereka yang alami peradangan ada yang berujung sirosis dan fibrosis. Sirosis dapat berkembang menjadi kanker. ”Belum ada petanda (marker) yang memprediksi tepat arah perkembangan perlemakan hati. Genetik memegang peranan,” kata Rinaldi.

Ada penderita kanker tanpa proses sirosis hati. Untuk mengetahui kondisi hati pada orang dengan perlemakan hati dan termasuk berisiko tinggi, seperti obesitas dan diabetes, prosedur terbaik ialah biopsi pada hati.

Menurut dokter spesialis gizi klinik Inge Permadhi dari FKUI/ RSUPN Cipto Mangunkusumo, diet mengurangi lemak hati prinsipnya mengatasi obesitas. Kurangi konsumsi lemak jenuh yang, antara lain, pada minyak kelapa dan lemak hewani, termasuk daging. Sebaliknya, tambah omega-3, di antaranya dari ikan tuna, salmon, dan kembung.

(INE)

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+