Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 23/10/2012, 15:35 WIB
|
EditorGlori K. Wadrianto

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Kanker nasofarings atau nasopharyngeal carcinoma (NPC), adalah yang kanker yang menyerang bagian atas tenggorokan di belakang telinga. Di Indonesia kejadiannya menempati urutan paling sering di antara kanker lain di bagian atas leher dan terbanyak ke-5 dari semua kanker.

Seperti kanker yang lain, metode deteksi dini NPC belum berkembang dengan baik. Akibatnya sebagian besar penderita kanker nasofarings datang dalam keadaan stadium lanjut. NPC pada stadium dini jarang ditemukan, hanya kurang dari 10 persen saja. Terlebih gejala NPC sering tidak khas, misalnya hidung tersumbat, hidung berdarah, gangguan pendengaran, nyeri kepala, pandangan ganda dan adanya benjolan di leher.

Prihatin dengan kondisi itu, Susanna Hilda Hutajulu, dosen Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, bersama timnya, sejak tahun 2002 telah melakukan penelitian, untuk menemukan cara cepat deteksi dini kanker nasofaring.

Susana berhasil menjadi pemenang pertama kategori penelitian terbaik dalam kompetisi Ristek-Kalbe Science Award (RKSA) 2012 pada 7 September lalu, menyisihkan 68 peneliti dari 16 Provinsi. "Karena tidak spesifik, gejala-gejala tersebut sering terabaikan dan pasien terdiagnosis setelah kanker meluas dan parah. Umumnya terjadi pada usia produktif sekitar 40-an tahun, mereka sering mimisan, pilek dan batuk seperti hidung tersumbat. " kata Susanna, Selasa ( 23/10/2012).

Area nasofarings sendiri letaknya tersembunyi, sehingga adanya benjolan kanker yang sangat kecil dan dini tidak tampak baik oleh pasien atau oleh dokter saat pemeriksaan fisik secara umum. Metode deteksi yang dikembangkan, lanjut Susanna, adalah metode skrining marker EBV atau deteksi keberadaan virus Epstein-Barr virus.

Metode deteksi EBV tersebut dapat diperiksa pada sampel darah dan sikatan epitel nasofarings dan telah digunakan sebagai konfirmasi diagnosis dengan pembanding biopsi. "EBV telah diteliti sebagai faktor yang paling erat kaitannya dengan kejadian NPC, Penelitian kami menunjukkan bahwa marker metilasi memiliki nilai diagnostik yang baik dengan sensitivitas dan spesifisitas diatas 90 persen dalam membedakan antara pasien NPC dengan orang normal," kata Susanna.

Lebih lanjut, Susanna mengatakan, penyebab NPC bersifat multifaktorial meliputi faktor genetik, epigenetik, radang kronik di area nasofarings dan faktor lingkungan. Yang termasuk faktor lingkungan adalah paparan bahan-bahan yang bersifat karsinogenik seperti asap rokok dan makanan tertentu yang diasinkan atau diawetkan.

"Kebiasaan merokok dan mengonsumsi makanan yang dibakar dan diawetkan akan mengaktifkan virus Epstein-Barr virus (EBV) yang sudah ada dalam tubuh manusia," ujarnya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+