Kompas.com - 10/10/2012, 06:41 WIB
|
Editoryunan

KOMPAS.com — Pemenang Nobel Fisika telah diumumkan pada Selasa (9/10/2012). Semula, banyak pihak memprediksi bahwa riset yang berhak mendapatkan penghargaan Nobel ialah penemuan partikel mirip partikel Higgs atau partikel Tuhan. Namun, pemenangnya ternyata berbeda.

Nobel Fisika 2012 diraih oleh peneliti asal Perancis dan Amerika Serikat, Serge Haroche dan David Wineland. Keduanya menerima Nobel karena jasanya mengembangkan metode untuk mengukur serta memanipulasi partikel sehingga bisa berperilaku sesuai hukum fisika kuantum.

Salah satu yang pertanyaan yang muncul kemudian, mengapa bukan riset partikel Higgs yang menjadi pemenang Nobel? Apakah penelitian tersebut tak cukup hebat untuk memenangi penghargaan Nobel?

David Pendlebury dari Thomson Reuters, lembaga yang memantau hasil penelitian dan sempat merilis prediksi pemenang Nobel tahun ini, seperti dikutip USA Today, 21 September 2012 lalu, mengatakan, "Terlalu awal bagi Higgs untuk menang."

Thomson Reuters justru memprediksi riset tentang teleportasi kuantum oleh Charles Bennett dan rekannya serta penelitian tentang cahaya oleh Stephen Harris dan Lene Hau sebagai kandidat kuat pemenang Nobel tersebut.

Komentar bahwa riset partikel Higgs belum layak mendapatkan Nobel juga datang dari kalangan pengamat dan jurnalis sains. Profesor jurnalistik di New York University, Charles Seife, misalnya, juga mengatakan bahwa penghargaan pada riset partikel Higgs terlalu dini.

"Penghargaan tak akan diberikan kepada Higgs. Terlalu dini. Walaupun bukti dari CERN akan kuat dan bisa disimpulkan, komite Nobel takkan memberikan penghargaan itu pada beberapa tahun ke depan," papar Seife seperti dikutip Slate, Rabu (3/10/2012).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara Geoff Brumfiel, jurnalis dari Nature, mengatakan bahwa salah satu sebab Higgs tidak meraih Nobel kali ini adalah karena nominasi sudah disusun sebelum pengumuman penemuan partikel mirip Higgs.

Frank Wilczek, salah satu pemenang Nobel Fisika tahun 2004, mengatakan, "Nominasi secara formal ditutup 1 Februari. Ada cara untuk memperpanjangnya, tetapi komite menilai tak ada alasan kuat untuk melakukannya dalam kasus ini."

"Alasan lain, kita masih belum meyakini apa yang kita temukan. Data akan dirilis lagi pada bulan Desember ini. Tanpa data itu, sangat berani bagi komite Nobel untuk memberikan penghargaan pada Higgs," tambah Brumfiel.

Meski kali ini belum beruntung, jika partikel Higgs bisa ditemukan kemudian, kemungkinan besar riset penemuan itulah yang akan meraih Nobel Fisika. "Saya pikir penghargaan pada Higgs akan menjadi favorit tahun depan," kata Wilczek seperti dikutip Livescience, hari ini.

Ada banyak peneliti yang turut dalam upaya pembuktian eksistensi Higgs. Jadi, jika nantinya layak menang, masih menjadi perdebatan lagi siapa peneliti yang akan meraihnya.

Baca tentang


    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.