Kompas.com - 02/10/2012, 11:44 WIB
EditorJodhi Yudono

BOJONEGORO, KOMPAS.com — Balai Arkeologi Yogyakarta menyimpulkan bahwa Situs Mlawatan di Desa Wotangare, Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan lokasi permukiman masa Kerajaan Majapahit dengan potensi sedang.

Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Budaya Dinas kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro Saptatik, Senin, menyatakan hal itu setelah menerima laporan Balai Arkeologi Yogyakarta mengenai hasil penelitian artefak yang ditemukan di Situs Mlawatan dalam ekskavasi beberapa waktu lalu.

Di dalam laporan itu disebutkan, karakter Situs Mlawatan yang berkaitan dengan struktur dan sebaran bata urukan mengindikasikan di situs setempat pernah berdiri bangunan.

Salah satu temuan nonwadah berupa "ukel-ukelan" ("Curl Shaped Roof") yang mengindikasikan bangunan yang ada dulu beratap. "Bangunan dibangun dengan bahan utama bata, dan didukung dengan penguat bangunan berupa tatal-tatal bata sebagai batu isian," jelasnya.

Lainnya, katanya masih mengutip laporan Balai Arkeologi Yogyakarta, temuan keramik di lokasi situs, salah satunya ada yang berasal dari Dinasti Ming China (1368-1644 M).

Ia menjelaskan, mengacu berbagai temuan lainnya di Tanah Air, pemukiman di Situs Mlawatan berdasarkan artefak yang ditemukan diduga berada pada kronologi peradaban masa Majapahit, dengan potensi sedang.

Meski demikian, menurut Balai Arkeologi Yogyakarta, Situs Mlawatan merupakan situs masa klasik dan cagar budaya yang perlu dikaji, dilestarikan, dan dikelola. "Sesuai penelitian, Situs Mlawatan memiliki luas 296-300 meter persegi," jelasnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di dalam laporannya itu, Balai Arkeologi Yogyakarta juga mengingatkan berbagai pihak, mulai Disbudpar, BP3 Trowulan Mojokerto, mengenai penggalian liar di lokasi situs harus bisa ditertibkan.

Selain itu juga  pemkab setempat diminta memasang papan situs di lokasi dan menempatkan juru pelihara yang bertugas mengamankan situs.

Menanggapi laporan itu, Saptatik mengaku, melaporkan kesimpulan hasil penelitan Balai Arkeologi Yogyakarta itu kepada Bupati Bojonegoro Suyoto. "Kita masih menunggu penanganan berikutnya sebab untuk mengungkap secara utuh masih dibutuhkan ekskavasi lanjutan," ucapnya menambahkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.