Kompas.com - 29/08/2012, 07:38 WIB
EditorEgidius Patnistik

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Para ilmuwan di AS mengaku terkejut dengan temuan terbaru bahwa lapisan es di kawasan Arktik di sekitar Kutub Utara telah menyusut hingga titik terendah sejak pengamatan di kawasan itu dimulai. Temuan ini menunjukkan skenario terburuk pemanasan global diduga telah terjadi.

Data terbaru dari Pusat Data Es dan Salju Nasional AS (NSIDC) dan Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA), Senin, menunjukkan, lapisan es di Arktik menyusut hingga hanya tersisa 4,09 juta kilometer persegi pada musim panas tahun ini. Luasan lapisan es itu diperkirakan masih akan terus menyusut mengingat musim panas masih akan berlangsung beberapa pekan lagi.

Luasan es itu melampaui rekor terendah yang tercatat pada 18 September 2007, yakni 4,17 juta kilometer persegi. Luasan es yang tercatat dalam lima hari terakhir itu juga merupakan rekor terendah sejak pemantauan lapisan es Arktik dimulai tahun 1979.

Kawasan Kutub Utara pada dasarnya adalah samudra yang membeku. Pada puncak musim dingin, lapisan es di Arktik bisa mencapai luas 15,54 juta kilometer persegi.

Menurut ilmuwan dari NSIDC, Walt Meier, kawasan tersebut kehilangan lapisan es seluas 155.000 kilometer persegi setiap tahun karena kenaikan suhu Bumi. ”Dulu lapisan es di Arktik bagaikan es batu raksasa. Bagian pinggirnya bisa meleleh, tetapi secara keseluruhan masih utuh. Namun, sekarang lapisan itu seperti remukan es. Paling tidak sebagian Arktik telah menjadi semacam es serut raksasa yang lebih mudah dan cepat meleleh,” tutur Meier.

Perubahan iklim

Penyusutan es besar-besaran tahun ini dianggap luar biasa karena tidak ada faktor iklim di luar kebiasaan yang bisa memicu pencairan es besar-besaran. Para ilmuwan langsung menunjuk pemanasan global akibat emisi gas rumah kaca sebagai pemicunya.

Ilmuwan lain dari NSIDC, Ted Scambos, mengatakan, memang ada badai yang membuat es di Arktik mencair awal bulan ini. Namun, secara umum, penyusutan lautan es secara dramatis, lapisan es yang terus menipis, dan suhu udara yang hangat hanya bisa dijelaskan sebagai gejala perubahan iklim akibat emisi gas rumah kaca.

Michael E Mann, Direktur Earth System Science Center di Penn State University, menambahkan, data terbaru ini menunjukkan skenario terburuk model perubahan iklim yang dibuat beberapa tahun lalu telah mulai terjadi. ”Ada sejumlah kawasan yang menunjukkan perubahan iklim terjadi lebih cepat dan dengan skala lebih besar daripada yang diramalkan model tersebut,” papar Mann.

Ilmuwan NASA, Waleed Abdalati, mengatakan, penyusutan ini adalah tahap awal dari hilangnya sama sekali lapisan es di Arktik pada musim panas di masa depan. ”Mengapa kita peduli? Karena es ini adalah faktor penting dalam menentukan iklim dan kondisi cuaca yang menaungi perkembangan peradaban modern selama ini,” ujar Abdalati. (AFP/AP/Reuters/DHF)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.