Sultan Minta Naskah Kuno Keraton Dikembalikan

Kompas.com - 15/05/2012, 04:04 WIB
Editor

YOGYAKARTA,KOMPAS - Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X meminta naskah-naskah kuno Keraton Yogyakarta di Inggris dan Belanda dikembalikan, minimal dalam bentuk mikrofilm. Sebagian besar naskah kuno koleksi keraton hilang dijarah pada masa penjajahan Inggris dan Belanda.

Sultan menyampaikan harapan itu saat bertemu Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda Retno Lestari Priansari Marsudi, Senin (14/5), di Kepatihan, Yogyakarta. ”Kalau bisa, pada aspek perjanjian kebudayaan, apakah boleh Daerah Istimewa Yogyakarta meminta naskah-naskah kuno di Belanda. Paling tidak, diberikan dalam bentuk mikrocip jika sewaktu-waktu keraton ingin meneliti,” kata Sultan.

Perjanjian pengembalian manuskrip kuno pernah dilakukan pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri di London, Inggris. Hingga kini, sebagian besar naskah kuno Keraton Yogyakarta belum juga dikembalikan.

Menurut Retno, Kedutaan Besar RI di Den Haag akan berusaha memfasilitasi permintaan itu. ”Kami menunggu pemerintah provinsi mendata manuskrip apa saja yang diinginkan,” katanya.

Inggris terbanyak

Perampasan naskah kuno terbanyak terjadi pada masa Sultan Hamengku Buwono II tahun 1812 saat Gubernur Thomas Stamford Raffles menyerang keraton. ”Waktu itu, setiap hari sekitar lima gerobak naskah kuno diambil selama satu minggu berturut-turut dan dibawa ke London. Naskah itu berisi tentang tari-tarian ataupun karya-karya pujangga keraton,” kata Sultan.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada, Djoko Suryo, mengatakan, perampasan besar-besaran naskah kuno Keraton Yogyakarta terjadi peristiwa geger sepehi tahun 1812. Waktu itu, tentara-tentara Gurkha utusan Inggris menyerang keraton.

Lebih dari 7.000 judul naskah kuno Keraton Yogyakarta dibawa ke Inggris sehingga manuskrip kuno pada masa HB I dan HB II nyaris hilang. Saat ini, di Perpustakaan Widya Budaya Keraton Yogyakarta tersisa 363 naskah (Kompas, 7 Agustus 2010).

”Selain penjarahan naskah kuno, ketika itu banyak kekayaan keraton lain yang juga turut dirampas,” kata Djoko.

Ia mengingatkan, perawatan naskah kuno mahal. Soal merawat, itu masih menjadi masalah di Indonesia.

Bila Pemerintah Provinsi DIY meminta kembali naskah-naskah kuno itu, kemungkinan besar Pemerintah Inggris dan Belanda hanya akan memberi dalam bentuk mikrofilm. ”Perlu dibentuk lembaga khusus yang menangani arsip naskah-naskah kuno itu,” kata Djoko. (ABK)



Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X