Kompas.com - 04/05/2012, 15:02 WIB
|
EditorBenny N Joewono

JAKARTA, KOMPAS.com - Kawasan karst menyimpan kekayaan arkeologi, geologi dan biologi. Jejak peninggalan manusia purba, menara kapur yang cantik dan beragam biota terdapat di kawasan karst.

"Kekayaan kawasan karst harus diteliti sebelum karst-nya dirusak," ungkap Yayuk R Suhardjono, peneliti biota karst dari Puslit Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Yayuk mengungkapkan, kawasan karst kini menghadapi beragam ancaman. Sumber daya alam di karst seperti kapur, semen, marmer, fosfat dan guano ditambang. Sementara eksploitasi telah terjadi, pengungkapan kekayaan karst berlangsung lambat.

"Keanekaragaman hayati kawasan karst belum sepenuhnya terungkap," kata Yayuk dalam Lokakarya "Ekosistem Karst Untuk Kelangsungan Hidup Bangsa" di LIPI Cibinong, Kamis (3/5/2012).

Kekayaan arkeologis sudah dieksplorasi namun belum seluruhnya. Sedangkan kekayaan geologis justru terancam. Contohnya, menara karst cantik di kawasan karst Maros-Pangkep berada di luar kawasan lindung, terancam oleh aktivitas tambang semen.

Eko Haryono, peneliti karst dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan urgensi dukungan penelitian kawasan karst, baik dalam konteks arkeologis, biologis maupun geologis.

"Yang menjadi masalah saat ini adalah kurangnya dukungan riset untuk mengangkat potensi kawasanm karst. Dalam geologi misalnya, publikasi karst tertua itu tahun 1936, dan itu oleh orang Jerman," katanya.

Pengungkapan biodiversitas karst menjadi perhatian Bambang Prasetya, Deputi Kepala Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI. "Setiap biota itu kan punya gen. Gen ini yang suatu saat mungkin bisa kita manfaatkan," katanya.

Sementara, Yayuk menekankan pentingnya valuasi kekayaan kawasan karst. Diharapkan, pengungkapan kekayaan dan valuasinya dalam rupiah akan membantu membangun kesadaran pentingnya konservasi kawasan karst ini.

Eko mengungkapkan, dalam pengungkapkan kekayaan karst, perlu ditunjuk satu pihak sebagai pengelola atau wali data. "Ini juga perlu dipikirkan, siapa nanti yang akan jadi walinya?" tuturnya.

Luas kawasan karst di Indonesia mencapai 15,4 juta hektar. Indonesia menyimpan hotspot biodiversitas karst di Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Kekayaan biota di wilayah ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.